KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 12,44%, sedangkan inklusinya 3,01%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Kabupaten Pekalongan menilai ada sejumlah penyebab gap antara literasi dan inklusi begitu lebar. Direktur Utama LKM BKD Kabupaten Pekalongan Hary Budhi Murdiyanto mengatakan salah satunya dipicu tata kelola yamg kurang profesional, sehingga menyebabkan penurunan kualitas layanan dan inklusi. "Selain itu, rendahnya kepercayaan masyarakat untuk menabung karena industri LKM belum masuk program penjaminan simpanan menjadi tantangan besar dalam menghimpun dana," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).
Gap Inklusi dengan Literasi LKM Lebar, Ini Penyebabnya Menurut LKM BKD Pekalongan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026 mencatat, tingkat literasi sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebesar 12,44%, sedangkan inklusinya 3,01%. Tingkat literasinya terbilang sudah cukup masif, tetapi inklusinya masih ketinggalan. Terlihat dari gap-nya yang masih jauh atau lebar. Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Badan Kredit Desa (BKD) Kabupaten Pekalongan menilai ada sejumlah penyebab gap antara literasi dan inklusi begitu lebar. Direktur Utama LKM BKD Kabupaten Pekalongan Hary Budhi Murdiyanto mengatakan salah satunya dipicu tata kelola yamg kurang profesional, sehingga menyebabkan penurunan kualitas layanan dan inklusi. "Selain itu, rendahnya kepercayaan masyarakat untuk menabung karena industri LKM belum masuk program penjaminan simpanan menjadi tantangan besar dalam menghimpun dana," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).
TAG: