GAPKI Dorong Peremajaan Sawit Rakyat untuk Dongkrak Produktivitas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendorong percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) guna meningkatkan produktivitas kebun sawit milik petani. Peremajaan menjadi langkah awal sebelum petani meningkatkan hasil panen melalui perawatan dan pemupukan. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, tanaman sawit yang sudah tua perlu diganti karena tidak lagi merespons perawatan secara optimal. Karena itu, peremajaan menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan hasil produksi kebun rakyat. “PSR harus dilakukan terlebih dahulu sebelum meningkatkan produktivitas, misalnya melalui perawatan dan pemupukan yang baik,” ujar Eddy kepada KONTAN, Kamis (15/10/2026). Program PSR mendapat dukungan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebesar Rp 60 juta per hektare, dengan batas maksimal empat hektare per kepala keluarga. Selain peremajaan, GAPKI juga mendorong peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan serangga penyerbuk dan sumber daya genetik dari Tanzania.

Baca Juga: Ekspor Sawit Indonesia Diproyeksi Turun 14,5% pada 2027, Cek Pemicunya Eddy menilai, peningkatan produktivitas kebun yang sudah ada dapat mengurangi kebutuhan pembukaan lahan baru. Dengan hasil panen yang lebih tinggi, kebutuhan sawit untuk pangan, energi, dan ekspor diharapkan bisa dipenuhi tanpa memperluas area perkebunan. “Kalau produktivitas bisa meningkat sampai rata-rata enam ton minyak per hektare per tahun, tidak diperlukan lagi pembukaan lahan baru untuk kebutuhan energi, pangan, dan ekspor,” kata Eddy. Menurut GAPKI, peningkatan produktivitas melalui intensifikasi atau optimalisasi kebun yang sudah ada juga dapat membantu menekan deforestasi karena tidak membutuhkan pembukaan lahan baru. “Kalau peningkatan produktivitas melalui intensifikasi, tidak ada pembukaan lahan baru sehingga tidak ada deforestasi,” ujar Eddy. Sebelumnya, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mendorong investasi swasta di sektor kelapa sawit tidak hanya menyasar perkebunan skala besar, tetapi juga menjangkau pekebun rakyat. Pasalnya, pekebun rakyat mengelola sekitar 41% dari total 16,8 juta hektare perkebunan sawit nasional. Dorongan tersebut menempatkan peningkatan produktivitas kebun rakyat sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan industri sawit, terutama untuk mengoptimalkan lahan yang sudah ada tanpa terus memperluas perkebunan.

Baca Juga: Gapki Gelar IPOC 2026, Bahas Prospek Harga Sawit dan Tantangan Perdagangan Global


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News