KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi pedang bermata dua bagi eksportir nasional. Di satu sisi, depresiasi rupiah membuat harga produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global. Namun di sisi lain, eksportir yang masih bergantung pada bahan baku dan komponen impor justru menghadapi kenaikan biaya produksi.
Diketahui, rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Mengutip data pasar spot, rupiah dibuka di level Rp 17.738 per dolar AS atau melemah 0,18% dibanding penutupan hari sebelumnya di Rp 17.706 per dolar AS.
Baca Juga: Gapki: Pelemahan Rupiah Tak Serta Merta Tingkatkan Ekspor CPO Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Eddy Martono mengatakan, pelemahan rupiah memang bisa meningkatkan penerimaan eksportir berbasis dolar AS dalam jangka pendek. Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya menguntungkan apabila berlangsung terlalu lama. “Rupiah melemah kalau berkepanjangan biaya yang masih menggunakan komponen impor seperti pupuk, suku cadang kendaraan, alat berat dan pabrik akan naik,” ujar Eddy kepada Kontan, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, sektor perkebunan sawit masih cukup bergantung pada barang impor, khususnya pupuk. Padahal, biaya pemupukan menyumbang sekitar 40% dari total biaya perawatan kebun.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 17.668, Airlangga: Tekanan Dipicu Harga Minyak Dunia “Jadi kalau harga pupuk naik akan membebani, walaupun dengan pelemahan rupiah harga dalam negeri juga naik. Tetapi ini kalau jangka panjang justru tidak menguntungkan,” jelasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News