GAPKI Soroti Rencana Bursa Mineral dan Komoditas Strategis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah membentuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis mendapat perhatian dari pelaku industri. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai keberadaan bursa komoditas baru pada dasarnya tidak menjadi persoalan, mengingat Indonesia saat ini telah memiliki bursa yang memperdagangkan komoditas sawit.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, perdagangan komoditas sawit di Indonesia saat ini telah difasilitasi oleh Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX). Karena itu, pemerintah dapat membentuk bursa baru maupun memperkuat bursa yang sudah ada.

"Untuk bursa sawit sudah ada di Indonesia yaitu ICDX, jadi tidak ada masalah apabila ada dibentuk bursa baru lagi atau diperkuat yang sudah ada," ujar Eddy kepada Kontan, Selasa (18/8/2026).


Baca Juga: RS Tria Dipa Investasi Teknologi Medis, Hadirkan CT Scan dan Cathlab Terbaru

Meski demikian, Eddy mengakui transaksi sawit di bursa domestik saat ini masih relatif kecil. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pemerintah jika ingin membangun bursa komoditas yang lebih kuat.

Eddy menambahkan, pembentukan bursa juga perlu mempertimbangkan karakteristik pasar masing-masing komoditas. Untuk sawit, misalnya, harga minyak sawit Indonesia saat ini masih mengacu pada transaksi di bursa Malaysia.

"Untuk minyak sawit Indonesia yang menentukan harga, hanya transaksi bursanya di Malaysia," katanya.

Di sisi lain, Eddy menilai posisi Indonesia sebagai produsen sekaligus eksportir sawit terbesar dunia membuat daya saing komoditas tersebut tetap kuat. Namun, daya saing bisa tertekan jika kebijakan yang diterapkan justru membuat harga sawit Indonesia menjadi tidak kompetitif.

Pasalnya, pembeli memiliki alternatif untuk beralih ke negara produsen lain maupun minyak nabati lainnya. Sawit sendiri bukan satu-satunya komoditas minyak nabati di pasar global.

"Karena kita produsen dan eksportir terbesar di dunia, daya saing kita berkurang apabila terlalu banyak kebijakan yang menyebabkan harga menjadi tidak kompetitif. Pembeli bisa mencari alternatif lain," jelas Eddy.

Terkait ambisi pemerintah membangun harga acuan nasional atau Indonesia Reference Price, Eddy menilai mekanisme harga komoditas sawit pada dasarnya sudah cukup transparan.

"Saat ini pun harga sudah transparan," tegasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis akan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027. Bursa tersebut ditujukan untuk memperkuat posisi tawar komoditas nasional sekaligus membangun Indonesia Reference Price bagi sejumlah komoditas ekspor unggulan.

Pemerintah menargetkan regulasi teknis penyelenggaraan bursa tersebut dapat diterbitkan paling lambat 17 September 2026. Pemerintah juga membuka peluang mengintegrasikan ICDX ke dalam bursa baru yang tengah disiapkan dan direncanakan bernama Indonesia Commodity Exchange (Icomex).

Bursa tersebut nantinya akan memperdagangkan sejumlah komoditas strategis Indonesia, termasuk crude palm oil (CPO), batu bara, hingga mineral seperti nikel.

Baca Juga: Kemendag Rekomendasi Platform Lain Replikasi Cara Shopee Berikan Transparansi Biaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News