JAKARTA. Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) akan mengurangi ekspor dalam enam bulan ke depan. Mulai Maret hingga Agustus 2016 ini, Gapkindo menargetkan dapat menahan stok karet sebesar 238.736 ton. Pembatasan volume ekspor karet ini merupakan implementasi dari (Agreed Export Tonnage Scheme/AETS). Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo mengatakan pembatasan ekspor karet bertujuan untuk menstabilkan harga karet di pasar internasional. Selain Indonesia, Thailand dan Malaysia juga ikut membatasi ekspor karet masing-masing sebesar 324.005 ton dan 52.259 ton. Ketiga negara ini tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC).Dengan demikian ada total 615.000 metrik ton karet yang tidak masuk ke pasar global akibat kebijakan ini. Menurut Moenardji pembatasan ekspor karet merupakan pilihan terakhir bagi produsen untuk menjaga kelangsungan bisnis karet. Pasalnya, para petani karet sudah banyak yang menebang pohon karet karena harga yang jatuh sangat rendah. "Karena itu, penerapan AETS diharapkan dapat memperbaiki kondisi dan mencegah penebangan pohon karet lebih lanjut," tutur Moenardji, di Kantor Gapkindo, Senin (15/2). Penurunan harga karet selain karena melemahnya ekonomi global, juga turut didorong oleh data yang dikeluarkan The International Rubber Study Group (IRSG) yang berbasis di Singapura.
Gapkindo batasi ekspor karet sebanyak 238.736 ton
JAKARTA. Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) akan mengurangi ekspor dalam enam bulan ke depan. Mulai Maret hingga Agustus 2016 ini, Gapkindo menargetkan dapat menahan stok karet sebesar 238.736 ton. Pembatasan volume ekspor karet ini merupakan implementasi dari (Agreed Export Tonnage Scheme/AETS). Ketua Umum Gapkindo Moenardji Soedargo mengatakan pembatasan ekspor karet bertujuan untuk menstabilkan harga karet di pasar internasional. Selain Indonesia, Thailand dan Malaysia juga ikut membatasi ekspor karet masing-masing sebesar 324.005 ton dan 52.259 ton. Ketiga negara ini tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC).Dengan demikian ada total 615.000 metrik ton karet yang tidak masuk ke pasar global akibat kebijakan ini. Menurut Moenardji pembatasan ekspor karet merupakan pilihan terakhir bagi produsen untuk menjaga kelangsungan bisnis karet. Pasalnya, para petani karet sudah banyak yang menebang pohon karet karena harga yang jatuh sangat rendah. "Karena itu, penerapan AETS diharapkan dapat memperbaiki kondisi dan mencegah penebangan pohon karet lebih lanjut," tutur Moenardji, di Kantor Gapkindo, Senin (15/2). Penurunan harga karet selain karena melemahnya ekonomi global, juga turut didorong oleh data yang dikeluarkan The International Rubber Study Group (IRSG) yang berbasis di Singapura.