Gapmmi Targetkan Industri Makanan dan Minuman (Mamin) Tumbuh 6,5% pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan, target tersebut tetap dipertahankan di tengah sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku usaha, terutama dari sisi bahan baku, nilai tukar, energi hingga logistik.

"Target akhir 2026 sekitar 6,5%," kata Adhi kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Menurut Adhi, bahan baku menjadi salah satu tantangan terbesar bagi industri mamin saat ini. Industri masih bergantung pada bahan baku impor sehingga perubahan kondisi rantai pasok global dan nilai tukar turut mempengaruhi biaya produksi.


"Yang paling utama bahan baku. Ini bahan baku kan menghadapi global supply chain yang luar biasa. Terus nilai tukar naik. Dan kita kan masih banyak import ya. Jadi ini tantangan terbesar buat kita," kata Adhi.

Selain bahan baku, pelaku industri juga menghadapi kenaikan biaya energi dan logistik. Kondisi tersebut membuat beban produksi meningkat, sementara ruang untuk menaikkan harga jual produk masih terbatas karena daya beli konsumen belum sepenuhnya pulih.

Baca Juga: Industri Mamin Tumbuh 6,51%, GAPMMI Soroti Pentingnya Inovasi dan Bahan Baku

"Nah sementara di dalam negeri daya beli kan tidak bisa serta-merta kita menaikkan harga tinggi kan," ujarnya.

Adhi mengatakan, produk mamin memiliki sensitivitas harga yang cukup tinggi. Karena itu, kenaikan biaya produksi tidak bisa seluruhnya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.

"Makanan ini kan price sensitive. Jadi harga bahan baku naik, energi naik, logistik naik. Tapi kalau harga jual tidak bisa naik secara proposional itu menjadi tantangan buat industri," kata dia.

Sebelumnya, Gapmmi mencatat sejumlah perusahaan mamin telah melakukan penyesuaian harga jual pada pertengahan tahun. Kenaikan harga produk berada di kisaran 3%-7%.

Baca Juga: Produksi Gula Thailand Turun, Gapmmi Minta Aturan Pasokan Lebih Fleksibel

Menurut Adhi, penyesuaian harga pada pertengahan tahun tersebut tergolong tidak biasa bagi industri mamin. Dalam kondisi normal, perusahaan biasanya melakukan penyesuaian harga pada akhir tahun atau awal tahun.

"Kita agak anomali tahun ini banyak perusahaan menaikkan harga di tengah tahun. Biasanya kita kalau naik harga itu akhir tahun atau awal tahun," ujarnya.

Adhi menambahkan, penyesuaian harga tersebut dipicu oleh kenaikan sejumlah komponen biaya, mulai dari bahan baku, nilai tukar, plastik untuk kemasan, logistik hingga energi.

"Ya itu karena global, bahan baku, nilai tukar, plastik packaging waktu itu, logistik, energi, semua naik yang luar biasa. Itu diluar dugaan," kata Adhi.

Meski perusahaan melakukan penyesuaian harga, kenaikan tersebut belum tentu mampu sepenuhnya menutup peningkatan biaya produksi. Pelaku usaha tetap harus memperhitungkan daya beli masyarakat agar kenaikan harga tidak menekan permintaan.

Dengan kondisi tersebut, Gapmmi masih melihat ruang pertumbuhan industri mamin hingga akhir tahun, dengan target pertumbuhan sekitar 6,5% pada 2026.

Baca Juga: GAPMMI: Kepastian Tarif Kunci Daya Saing Ekspor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News