Gara-gara Pam Swakarsa Kivlan gugat Wiranto, Enzo Zenz Allie tetap aman di Akmil



KONTAN.CO.ID -  NEWSMAKERS. Perseteruan Kivlan Zein dengan Wiranto perihal pembentukan Pam Swakarsa semakin hangat. Enzo Zenz Allie memiliki indeks bernegara yang bagus. Keduanya mendomninasi pemberitaan Senin (12/8) dan Selasa (13/8). Berikut dua tokoh yang membuat kita tidak bisa berpaling. 


Kivlan Zen, Mantan Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat (Kas Kostrad) 

Berseteru dengan Wiranto, melalui kuasa hukumnya, Kivlan mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap Wiranto. Gugatan tersebut terkait pembentukan Pasukan Pengamanan Masyarakat (Pam) Swakarsa pada 1998 yang diperintahkan oleh Wiranto.

 "Ini gugatannya perbuatan melawan hukum karena ada masalah kewajiban dari Pak Wiranto kepada Pak Kivlan," ujar kuasa hukum Kivlan, Tonin Tachta, saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/8). Gugatan terhadap Wiranto telah didaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada 5 Agustus 2019.

Tonin menjelaskan, pada 1998, Wiranto memerintahkan Kivlan untuk membentuk Pam Swakarsa dengan total pembiayan Rp 8 Miliar. Namun, saat itu Wiranto hanya memberikan Rp 400 juta kepada Kivlan. Akibatnya, Kivlan harus menggunakan dana pribadi untuk menutupi kekurangan anggaran pembentukan Pam Swakarsa. 

"Karena peristiwa itu Pak Kivlan dirugikan karena buat Pam Swakarsa dikasih uang Rp 400 juta, padahal butuh Rp 8 miliar. Habis uangnya (Kivlan) sampai dia jual rumah, utang di mana-mana, tidak dibayar-bayar," kata Tonin.

Tonin mengatakan kliennya meminta ganti rugi sebesar Rp 1 triliun kepada Wiranto.  

Adapun Pam Swakarsa merupakan kelompok sipil bersenjata tajam yang dibentuk untuk membendung aksi mahasiswa sekaligus mendukung Sidang Istimewa MPR (SI MPR) pada 1998. Selama SI MPR, Pam Swakarsa berkali-kali terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa yang menentang SI, selain juga terlibat bentrokan dengan masyarakat yang merasa resah dengan kehadiran Pam Swakarsa.

Berita gugatan Kivlan Zein ini menghiasi media sejak Senin hingga Selasa.  


Enzo Zenz Allie, Taruna Akademi Militer

Sebenarnya, berita polemik Enzo Zenz Allie sudah marak sejak minggu lalu dengan komentar dari para tokoh, namun menjadi makin marak sejak Senin (12/8) dan Selasa (12/8).

Akhirnya TNI memutuskan tetap dipertahankan di Akademi Militer. Hal tersebut berdasarkan kesimpulan atas tes tambahan dari alat ukur alternatif yang dilakukan oleh TNI AD pada 10-11 Agustus 2019 lalu. Hasilnya, Enzo memiliki nilai 84 persen atau 5,9 dari maksimal 7 untuk Indeks Moderasi Bernegara. 

"Kami lakukan pengukuran Sabtu-Minggu kemarin. Hasilnya dianalisis Senin (12/8/2019) kemarin. Kesimpulannya, Enzo, dilihat dari indeks moderasi bernegara ternyata kalau dikonversi jadi persentase 84 persen atau 5,9 dari maksimal 7. Indeks moderasi bernegaranya bagus," terang Kepala Staf TNI AD Jenderal Andika Perkasa konferensi pers di Kantor Mabes TNI AD, Jalan Veteran, Selasa (13/8).

Atas segala masukan, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa berjanji memperbaiki rekrutmen taruna akademi militer ke depannya. "TNI AD meminta maaf atas kericuhan yang terjadi, tapi kami memang benar-benar tidak bermaksud dengan sengaja untuk berada dalam pusat kontroversi. Kami pasti akan perbaiki. Jangankan berikutnya, sekarang saja kami buka diri. Kami tidak ngotot," ujar Andika saat konferensi pers di Kantor Mabes TNI AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (13/8).   Sebelumnya memang banyak yang berkomentar perihal lolosnya Enzo, padahal diduga simpatisan HTI. Di antaranya dari  Kepala Kantor Staf Presiden sekaligus mantan Panglima mengingatkan agar TNI memperketat seleksi masuk. Hal itu disampaikan Moeldoko menanggapi polemik lolosnya calon taruna Akademi Militer ( Akmil) Enzo Allie dalam seleksi. 

Lalu, ada komentar dari  Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu Ryacudu meminta TNI memeriksa persoalan Enzo Zenz Allie yang lolos sebagai calon taruna Akmil dengan benar. 

"Itu kan baru mau masuk. Saya suruh periksa. Kalau dia memang jiwanya begitu, ya enggak pantas," ujar Ryamizard di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Senin (12/8). ♦

 

Editor: Tri Adi