Gara-gara poundsterling, bursa Asia memerah



TOKYO. Mayoritas saham yang diperdagangkan di kawasan Asia memerah pada transaksi Jumat (7/10). Data yang dihimpun Bloomberg menunjukkan, pada pukul 09.30 waktu Tokyo, indeks MSCI Asia Pacific tak banyak mencatatkan perubahan. Sepanjang pekan ini, indeks acuan regional tersebut hanya naik 0,6%.

Sementara itu, berdasarkan data CNBC, indeks ASX 200 Australia turun 0,47%. Hampir seluruh sektor memerah. Sektor yang mencatatkan penurunan terdalam adalah sektor finansial sebesar 0,24%. Sedangkan sektor energi berhasil melawan arus dengan naik sebesar 0,55%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 Stock Average bergerak flat. Saat berita ini diturunkan, posisi Nikkei turun 0,02% menjadi 16.895,13.


Sedangkan indeks Kospi Korea Selatan diperdagangkan turun 0,09% menjadi 2.063,40.

Bursa Asia dibuka melemah seiring sentimen negatif yang berasal dari poundsterling. Asal tahu saja, pagi ini, poundsterling nyungsep. Tidak tanggung-tanggung, pelemahannya mencapai posisi terlemah sejak 1985 silam.

Data yang dihimpun Reuters menunjukkan, poundsterling sempat keok ke level US$ 1,1819. Kendati demikian, pada pukul 08.55 waktu Singapura, poundsterling kembali pulih ke level US$ 1,2401.

Anjloknya nilai tukar mata uang Inggris ini disebabkan aksi jual besar-besaran pelaku pasar. John Gorman, head of non-yen rates trading Nomura Securities menilai, ada dua teori yang berkembang mengenai poundsterling.

"Pertama, ada kesalahan fat finger (salah ketik) atau transaksi yang salah akibat human error. Kemungkinan kedua, yang sepertinya lebih masuk akal, ada kontrak option yang diperdagangkan sehingga menyebabkan aksi jual dengan likuiditas rendah," jelas Gorman.

Tidak seluruh analis meyakini teori fat finger.

Sejumlah pengamat menduga artikel yang dirilis dari Financial Times mengenai kecemasan Brexit menjadi pemicu keoknya poundsterling.

"Inggris memutuskan untuk memilih Brexit. Saya yakin ini Brexit yang cukup sulit (hard Brexit)," demikian laporan yang ditulis Financial Times mengutip Presiden Prancis Francois Hollande.

Selain itu, pelaku pasar juga memilih untuk menanti data tenaga kerja AS yang bakal dirilis hari ini.

"Data tenaga kerja non farm payrolls akan dirilis malam ini. Dan hal ini akan menentukan arah market, sehingga pasar akan sedikit tenang hari ini. Ada potensi kejutan nanti malam," kata Rodrigo Catril, currency strategist National Australia Bank.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie