KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyak perusahaan dinilai masih mempertahankan kendaraan operasional terlalu lama karena merasa armada masih layak digunakan. Padahal, di saat bersamaan nilai aset kendaraan terus menyusut sementara biaya kepemilikan mulai meningkat. Garasi.id mencatat kendaraan operasional umumnya mulai memasuki fase kenaikan biaya pada tahun keempat hingga kelima penggunaan.
Baca Juga: Astra Graphia (ASGR) Fokus Perkuat Bisnis IT Services pada 2026 Pada periode tersebut, frekuensi servis meningkat, komponen fast moving mulai banyak diganti, hingga risiko kerusakan besar mulai muncul. CEO Garasi.id Ardy Alam mengatakan, banyak perusahaan sebenarnya kehilangan nilai aset bukan semata karena kondisi kendaraan yang buruk, melainkan karena tidak memiliki data inspeksi yang memadai saat proses penjualan. “Banyak perusahaan sebenarnya tidak rugi karena mobilnya jelek, tapi karena tidak punya data yang bisa membuktikan kondisi kendaraan secara profesional. Akhirnya harga ditekan terus saat negosiasi,” ujar Ardy dalam keterangannya, Minggu (25/5/2026). Garasi.id menyebut biaya servis kendaraan yang sebelumnya hanya sekitar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per tahun dapat meningkat menjadi Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per tahun ketika kendaraan memasuki usia lebih tua.
Baca Juga: Pendapatan Astra Graphia (ASGR) Naik 5,34%, Bisnis Solusi Digital Jadi Andalan Baru Kenaikan biaya tersebut terutama dipicu potensi kerusakan pada transmisi, sistem pendingin, hingga kaki-kaki kendaraan. Selain biaya operasional yang meningkat, perusahaan juga menghadapi risiko penurunan nilai aset kendaraan secara signifikan apabila terlambat menjual armada. Sebagai ilustrasi, kendaraan operasional yang dibeli seharga Rp 250 juta masih memiliki nilai pasar sekitar Rp 140 juta hingga Rp 150 juta apabila dijual pada tahun keempat penggunaan. Namun jika penjualan baru dilakukan pada tahun keenam atau ketujuh, nilai pasar kendaraan dapat turun menjadi sekitar Rp 90 juta hingga Rp 110 juta.
Baca Juga: Danko Tambah Gerai Pro Shop Kedua di Glodok, Targetkan Ekspansi 6 Gerai Tahun Ini Artinya, keterlambatan penjualan selama satu hingga dua tahun berpotensi membuat perusahaan kehilangan nilai aset sebesar Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per unit. Menurut Garasi.id, banyak perusahaan memilih menjual kendaraan ke showroom karena proses transaksi lebih cepat dan praktis. Namun, skema tersebut membuat harga jual kendaraan cenderung lebih rendah karena dealer turut memperhitungkan margin, biaya refurbish, dan risiko stok unit. Di sisi lain, penjualan langsung ke pengguna akhir berpotensi memberikan harga lebih tinggi, tetapi membutuhkan transparansi kondisi kendaraan yang lebih detail. Untuk itu, Garasi.id menawarkan layanan inspeksi kendaraan melalui pengecekan hingga 170 titik, mencakup kondisi mesin, transmisi, sistem kelistrikan, kaki-kaki, struktur kendaraan, hingga indikasi bekas tabrakan atau banjir.
Baca Juga: Tingginya Kasus Kanker Dorong Pemanfaatan Teknologi Diagnostik Presisi Menurut Ardy, inspeksi kendaraan kini menjadi bagian penting dalam strategi pengelolaan aset perusahaan agar keputusan menjual atau mempertahankan kendaraan dapat dilakukan secara lebih terukur. “Keputusan keep atau replace harus dihitung secara strategis,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News