KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) berupaya menjadkan tahun 2026 sebagai fase
turnaround kinerja. Uoata itu seiring percepatan transformasi bisnis dan pemulihan kapasitas produksi. Maskapai pelat merah ini menargetkan kesiapan sedikitnya 118 armada pada akhir 2026. Terdiri dari 68 pesawat Garuda Indonesia dan 50 pesawat Citilink yang berada dalam kondisi
serviceable. "Ke depan, perseroan optimistis pemulihan armada dan implementasi transformasi secara konsisten akan mendorong perbaikan kinerja operasional secara bertahap," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, belum lama ini.
Dari sisi kinerja, sepanjang tiga bulan pertama 2026, GIAA membukukan rugi bersih tau rugi tahun berjalan yang diatribusikan ke entitas induk mencapai US$ 46,48 juta, menyusut 39,2% secara tahunan atau
year on year (yoy). Penurunan kerugian itu sejalan dengan pertumbuhan pendapatan konsolidasian 5,36% secara tahunan menjadi US$ 762,35 juta. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan permintaan penumpang, perbaikan yield, serta tren positif pendapatan. Selain dari sisi kinerja, di tengah tekanan industri penerbangan global serta proses pembenahan internal pascarestrukturisasi, maskapai nasional ini mulai mendapatkan pengakuan dari pasar internasional. Dalam daftar maskapai terbaik dunia versi AirlineRatings.com tahun 2026. Garuda menempati posisi ke-24 kategori. Pengakuan global tersebut dapat menjadi katalis penting dalam memperkuat persepsi pasar terhadap kualitas layanan Garuda. Sekaligus mendukung upaya pemulihan kinerja dan peningkatan daya saing di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Reputasi layanan menjadi faktor krusial dalam industri penerbangan, terutama untuk menarik segmen penumpang premium dan meningkatkan
yield. “Di tengah dinamika industri penerbangan global yang penuh tantangan, pencapaian ini tentunya menjadi sinyal positif yang mencerminkan progres dari program transformasi perusahaan,” kata Glenny dalam keterangan resmi, Jumat (1/5). Baca Juga:
Begini Strategi Garuda Indonesia Memitigasi Lonjakan Harga Avtur Ke depan, Garuda menargetkan percepatan transformasi tidak hanya pada aspek layanan, tetapi juga efisiensi operasional dan penguatan kapabilitas digital. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan model bisnis yang lebih adaptif dan berkelanjutan. “Garuda Indonesia berkomitmen mengakselerasi berbagai transformasi kinerja yang tidak hanya berfokus pada perbaikan layanan secara menyeluruh, tetapi juga optimalisasi operasional dan pengembangan digitalisasi layanan secara berkelanjutan,” ujarnya. Penilaian AirlineRatings.com berdasarkan pengalaman penumpang secara menyeluruh. Mulai dari kualitas kabin, layanan awak pesawat, hingga sajian makanan selama penerbangan. Aspek-aspek tersebut menjadi indikator penting dalam membangun diferensiasi layanan maskapai full-service. Capaian ini mempertegas arah strategi Garuda yang kini tidak hanya berfokus pada pemulihan finansial, tetapi juga penguatan nilai layanan sebagai keunggulan kompetitif.
Perusahaan juga menyiapkan pembenahan lanjutan, mulai dari peningkatan standar layanan kabin, layanan darat, fasilitas lounge, hingga pengembangan layanan digital dan hiburan selama penerbangan. Sebelumnya, lembaga pemeringkatan independen global OAG Aviation Worldwide melalui platform OAG Flightview menobatkan Garuda Indonesia sebagai maskapai paling tepat waktu di dunia periode Maret 2026. Dalam laporan tersebut, Garuda Indonesia mencatatkan tingkat ketepatan waktu alias
on time performance (OTP) sebesar 97,9%. Nilai tertinggi di antara maskapai global. “Ketepatan waktu merupakan elemen krusial dalam membangun kepercayaan pelanggan," kata Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News