Garuda Indonesia (GIAA) Perluas Layanan Digital di Tengah Pemulihan Kinerja



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) memperluas layanan digital bagi penumpang melalui peluncuran Garuda eSIM. Layanan ini memungkinkan penumpang memperoleh akses internet di lebih dari 160 negara tanpa perlu mengganti kartu SIM fisik.

Garuda eSIM menawarkan pilihan paket data berdasarkan destinasi, durasi perjalanan dan kebutuhan data penumpang. Layanan tersebut mencakup berbagai destinasi di Asia, Eropa, Amerika, Australia hingga Timur Tengah.

Direktur Teknik merangkap Pelaksana Tugas Direktur Niaga Garuda Indonesia Mukhtaris mengatakan, pengembangan layanan tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan menghadirkan nilai tambah bagi penumpang sejalan dengan perkembangan kebutuhan perjalanan.


Baca Juga: IDPRO Dorong Kajian Neraca Air untuk Data Center Jatiluhur

"Hal ini sebagai wujud komitmen bersama untuk menghadirkan nilai tambah layanan yang menjawab kebutuhan perjalanan yang terus berkembang," ujar Mukhtaris dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (3/10).

Layanan Garuda eSIM didukung oleh Yoowifi Indonesia, penyedia solusi konektivitas perjalanan yang menawarkan layanan eSIM, kartu SIM fisik dan Pocket WiFi untuk berbagai destinasi internasional.

Garuda eSIM dapat diakses melalui situs Garuda Indonesia maupun garuda.yoowifi.com serta aplikasi FlyGaruda dan aplikasi Garuda eSIM. Penumpang dapat membeli paket data dan melakukan instalasi eSIM secara digital sebelum keberangkatan.

"Cakupan layanannya meliputi berbagai destinasi di Asia, Eropa, Amerika, Australia, dan Timur Tengah, dengan pilihan paket sesuai destinasi, durasi, dan kebutuhan data selama perjalanan," kata Mukhtaris.

Menurut dia, kebutuhan penumpang untuk mengakses transportasi, mencari informasi destinasi hingga berkomunikasi dengan keluarga menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang turut menjadi perhatian Garuda Indonesia.

Pengembangan layanan digital tersebut berlangsung di tengah upaya GIAA memulihkan kinerja operasional dan keuangan perseroan. Hingga Juni 2026, jumlah armada operasional Garuda Indonesia telah mencapai 104 pesawat.

Dari sisi pendapatan, GIAA membukukan US$ 1,80 miliar pada semester I 2026, tumbuh 16% secara tahunan. Penerbangan berjadwal masih menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan US$ 1,31 miliar, naik 10,9%.

Pendapatan penumpang dari penerbangan berjadwal meningkat 11,5% menjadi US$ 1,23 miliar. Sementara itu, pendapatan penerbangan tidak berjadwal tumbuh 32,5% menjadi US$ 272,8 juta, terutama ditopang angkutan haji yang mencapai US$ 232,2 juta atau tumbuh 51,6%.

Pendapatan lain-lain juga meningkat 32,2% menjadi US$ 209,2 juta, termasuk kontribusi bisnis perawatan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) yang tumbuh 43,8% menjadi US$ 87,4 juta.

Dari sisi profitabilitas, GIAA membukukan laba kotor US$ 74 juta, naik 12,7% secara tahunan. EBITDA juga meningkat 5,8% menjadi US$ 431,6 juta. Sementara itu, rugi bersih perseroan menyusut 23,2% menjadi US$ 113 juta.

Perbaikan kinerja tersebut terjadi di tengah tekanan biaya avtur. Beban avtur GIAA melonjak 43,6% menjadi US$ 677,6 juta dan porsinya terhadap pendapatan meningkat menjadi 37,7% dari 30,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, beban non-avtur hanya tumbuh 3,9% menjadi US$ 1,07 miliar, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang mencapai 16%.

GIAA juga berhasil menekan beban keuangan sebesar 11,6% menjadi US$ 222,4 juta. Penurunan tersebut sejalan dengan turunnya beban bunga atas liabilitas sewa, obligasi dan utang usaha.

Perbaikan tersebut turut didukung suntikan modal Danantara Asset Management sebesar Rp 23,67 triliun pada Desember 2025. Setelah dana tersebut masuk, Citilink melunasi pokok utang restrukturisasi kepada Pertamina.

Di sisi operasional, perseroan mengeluarkan US$ 232,1 juta untuk aset pemeliharaan pesawat sepanjang semester I 2026, terutama untuk perawatan mesin. Nilai tersebut meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun total pinjaman GIAA, termasuk liabilitas sewa, obligasi dan pinjaman bank, turun 4% menjadi US$ 3,76 miliar per 30 Juni 2026 dari US$ 3,92 miliar pada akhir 2025.

Arus kas operasional tercatat positif US$ 253,1 juta dengan posisi kas dan setara kas sebesar US$ 624,3 juta pada akhir Juni 2026.

Dari sisi permodalan, defisiensi modal GIAA juga menyempit dari US$ 1,50 miliar per 30 Juni 2025 menjadi US$ 52,2 juta per 30 Juni 2026. Posisi tersebut masih mencerminkan tekanan permodalan karena perseroan kembali membukukan rugi pada semester I 2026.

Baca Juga: Pasar AC Makin Ketat, LG Electronics Andalkan Kecerdasan Buatan dan Produksi Lokal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News