JAKARTA. Ketersediaan armada pesawat dengan performa baik adalah modal utama bisnis transportasi udara. Untuk itu, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ingin mengganti armada pesawat yang sudah jatuh tempo masa sewanya. Garuda telah memesan pesawat Boeing 737 Max sebagai armada pengganti Boeing 737 800 NG. Perusahaan pelat merah ini juga tengah mengkaji dua jenis pesawat lain untuk digantikan, yakni Boeing 787 atau Airbus 350. Proses penggantian pesawat akan berlangsung mulai tahun 2016 hingga 2020. Garuda Indonesia menyebut proses penggantian karena habisnya masa kontrak itu dengan istilah natural replacement. Selain mengganti pesawat lawas, Garuda Indonesia juga akan menambah jumlah armada.
"Untuk pesawat baru, yang di-delivery tidak banyak," ujar Direktur Keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk I Ngurah Askhara Danadiputra kepada KONTAN, Minggu (17/1). Hingga akhir tahun 2016, Garuda Indonesia ingin menerbangkan 230 pesawat. Sementara per 30 Desember 2015, maskapai penerbangan milik pemerintah (BUMN) ini memiliki 187 pesawat. Jadi target penambahan pesawat tahun ini 8,56%. Semua tambahan pesawat akan melayani penerbangan full service carrier (FSC). Pasalnya, Garuda Indonesia tak ingin bersaing dengan anak perusahaan yang mereka fokuskan menggarap bisnis penerbangan low cost carrier (LCC). Garuda Indonesia tak membeberkan berapa dana untuk mengganti maupun menambah pesawat pada tahun ini. Manajemen perusahaan hanya menyebutkan, dana belanja modal atawa capital expenditure di luar kebutuhan belanja pesawat. Adapun belanja modal sekitar US$ 160 juta, di luar dana pengadaan pesawat. Dana belanja modal akan mereka pakai untuk perawatan, dan operasional. Yang pasti tambahan pesawat membikin Garuda Indonesia makin mantap menyambut rencana pengoperasian penerbangan komersial di bandar udara (bandara) Pondok Cabe di Pamulang, Banten. Kalau tak meleset, persiapan penerbangan berlangsung mulai Maret 2016. Rute Pondok Cabe Garuda Indonesia tak cuma akan menerbangi Pondok Cabe. Mereka sudah mengucurkan investasi untuk kebutuhan teknologi informasi (TI) dan sistem
ground handling. Namun, terealisasi atau tidaknya jadwal penerbangan perdana itu tergantung kesiapan sertifikasi dan pengaturan ruang udara bandara Pondok Cabe. "Saat ini masih dalam proses pengurusan izin oleh Pelita Air atau Pertamina," terang Askhara.
Kalau jadwal penerbangan mulus, Garuda Indonesia siap menggelar rute penerbangan intra Jawa, intra Sumatera bagian Selatan, dan intra Kalimantan bagian Selatan. Beberapa rute yang tengah mereka kaji diantaranya penerbangan ke Bandar Lampung, Pangkalan Bun, Palembang, Solo, Yogyakarta dan Semarang. Garuda Indonesia belum memutuskan jumlah frekuensi penerbangan di masing-masing rute incaran tadi. Perusahaan berkode GIAA di Bursa Efek Indonesia tersebut masih mempertimbangkan potensi pasar, ketersedian selot dan pertimbangan lain. Di samping rute via Pondok Cabe, Garuda Indonesia akan menambah dua rute internasional baru tahun ini. Rute pertama menuju London, Inggris yang akan beroperasi pada April 2016. Rute kedua, ke Madinah, Arab Saudi. Untuk domestik, ada rute Sumba - Nusa Tenggara Timur, Sintang - Kalimantan Barat, Nabire - Papua. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News