KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri keramik nasional mulai terdampak keterbatasan pasokan gas bumi. Sejumlah pelaku usaha bahkan terpaksa memangkas kapasitas produksi hingga 40%-50% karena kuota gas yang diterima tidak sesuai dengan kebutuhan produksi. Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto mengatakan, gas bumi merupakan komponen penting dalam proses produksi keramik, terutama untuk
spray dryer dan tungku pembakaran atau kiln. "Bagi industri keramik, gas itu adalah urat nadi. Mati hidup atau keberlangsungan industri keramik sangat tergantung pada ketersediaan dan kelancaran suplai gas," ujar Edy dalam keterangannya, Senin (21/9/2026).
Baca Juga: Daya Beli Tertekan, Tigaraksa Satria (TGKA) Siapkan Strategi Kejar Target Laba 2026 Menurut Edy, pada 14-30 September 2026, sejumlah industri pengguna gas menghadapi pembatasan kuota harian dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN). Beberapa anggota ASAKI hanya mendapatkan sekitar 78% dari kontrak minimum gas. Pembatasan tersebut turut mengerek biaya produksi. ASAKI memperkirakan harga rata-rata gas yang harus ditanggung industri keramik pada September 2026 mencapai sekitar US$12 per MMBTU, naik dari kisaran US$8-US$8,5 per MMBTU sebelumnya. Kenaikan harga gas membuat porsinya terhadap total biaya produksi ikut meningkat. Jika sebelumnya sekitar 35%, kini biaya gas disebut sudah mencapai lebih dari 45%, bahkan mendekati 48%. Edy mengatakan, kondisi tersebut mulai berimbas pada operasional pabrik. ASAKI menerima laporan sekitar lima hingga enam perusahaan telah menurunkan kapasitas produksi untuk menyesuaikan penggunaan gas dengan kuota harian. "Kalau kapasitas turun sebanyak 40%-50%, otomatis karyawan akan di-lay-off atau dirumahkan," katanya. Tekanan juga datang dari rencana penghentian sementara pasokan gas di Jawa Timur. Berdasarkan pemberitahuan PGN yang diterima pelaku industri,
partial shutdown dijadwalkan pada 26-27 September 2026, meski masih menunggu persetujuan SKK Migas. Selanjutnya, pemasok gas menjadwalkan
partial shutdown pada 1-14 Oktober 2026. Setelah itu, total
shutdown dijadwalkan pada 24-30 Oktober 2026. Selama periode total
shutdown tersebut, industri tidak mendapatkan pasokan gas. Pemeliharaan kembali dijadwalkan pada Desember 2026 selama enam hari dengan skema
partial shutdown. "Sudah jatuh tertimpa tangga, ini yang sedang terjadi di industri keramik nasional. Persoalan di Jabar belum selesai, datang kembali persoalan yang lebih genting di Jatim," ujar Edy. Menurut dia, penghentian pasokan tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap tenaga kerja industri keramik. "PHK besar-besaran tidak bisa terhindarkan akibat pasokan gas dan penghentian pasokan di Jatim," katanya. Edy menilai, persoalan pasokan juga tidak lepas dari posisi industri manufaktur dalam prioritas pemanfaatan gas bumi. Berdasarkan informasi yang diterima ASAKI, industri manufaktur belum masuk dalam kelompok prioritas utama. "Setahu informasi yang kami dapat, industri manufaktur ini bukan mendapatkan skala prioritas utama untuk pemanfaatan gas. Kami mungkin ada di nomor tiga atau empat," ujarnya. Padahal, menurut Edy, manufaktur memiliki peran penting terhadap perekonomian nasional. Karena itu, pemerintah dan PGN diharapkan dapat mencari solusi yang tidak hanya menjamin ketersediaan gas, tetapi juga harga yang kompetitif bagi industri.
Baca Juga: Industri Baja Tertekan Kenaikan Harga Minyak "Harapan kami pelaku industri bisa duduk bersama dan ada solusi dari permasalahan supply energi tersebut. Tidak hanya dari sisi
availability, tetapi juga
affordability," katanya. ASAKI mengusulkan penerapan
Domestic Market Obligation (DMO) gas bumi untuk memastikan kebutuhan industri dalam negeri terpenuhi sebelum gas diekspor. ASAKI juga membuka opsi impor gas oleh PGN apabila pasokan domestik tidak mencukupi. "Bagi kami, yang penting adalah bagaimana industri bisa berproduksi dengan tenang dan lancar," kata Edy. Sementara itu, Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Yustinus Gunawan menambahkan, penurunan pasokan gas PGN mulai menimbulkan dampak berantai terhadap industri manufaktur. "Penurunan pasokan gas bumi ini memberikan dampak berantai yang sangat memukul industri. Sebagian lini produksi sudah dimatikan dan sebagian tenaga kerja sudah dirumahkan," ujar Yustinus. Menurut dia, gas bumi sulit digantikan bagi sejumlah industri manufaktur karena berfungsi sebagai bahan baku sekaligus sumber energi. Sementara proses produksi manufaktur harus berjalan secara berkesinambungan.
Baca Juga: Bioetanol E50 Belum Realistis, Pemerintah Diminta Fokus E10 dan E20 "Gas bumi adalah bahan baku dan energi yang tidak tergantikan. Sementara itu, proses produksi manufaktur harus berlangsung terus-menerus atau nonstop," katanya. Yustinus menambahkan, pelaku industri kini harus menjaga operasional sekaligus memenuhi komitmen kepada pelanggan di tengah pasokan gas yang menurun. "Kondisi ini membuat operasional kalang kabut, demikian juga pelaku industri kalang kabut menjaga komitmen industri kepada pelanggan," tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News