JAKARTA. Ahli penerbangan nasional Ilham Akbar Habibie mengaku prihatin dengan perkembangan PT Dirgantara Indonesia. Menurutnya, PT Dirgantara Indonesia sulit berkembang dengan maksimal karena hanya mengandalkan produksi dan penjualan pesawat militer. Putra mantan Presiden BJ Habibie ini tak yakin pernyataan PT Dirgantara Indonesia bahwa penutupan produksi pesawat Gatot Kaca N250 karena tak laku di pasaran dunia. Menurutnya penutupan produksi tersebut karena perintah International Monetary Fund (IMF) tahun 1998, karena pada saat itu Indonesia harus melakukan penghematan uang akibat krisis yang menjadi syarat untuk penerimaan bantuan. "Jadi bukan karena pesawat Gatot Kaca N250 tidak laku terjual," kata Ilham kepada KONTAN di Jakarta, Kamis (10/9). Pria yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama ini bahkan meyakini jika produksi pesawat Gatot Kaca N250 dipasarkan sejak diluncurkan pada 10 Agustus 1995, pesawat tersebut mungkin sudah mendominasi pasar di Indonesia. Karena pesawat ini mirip dengan pesawat ATR yang sekarang banyak dioperasikan di Indonesia. "Saat ini pangsa pasar pesawat ATR yang terbesar di dunia itu dari Indonesia," ujar Ilham. Kini PT Dirgantara Indonesia hanya mengandalkan produksi dan penjualan pesawat militer. Kalaupun ada pesawat sipil, itu lebih untuk keperluan khusus seperti kargo. Padahal menurutnya bisnis penjualan pesawat militer sangat kental aroma politis.
Gatot Kaca N250 bukan tak laku, tapi karena krisis
JAKARTA. Ahli penerbangan nasional Ilham Akbar Habibie mengaku prihatin dengan perkembangan PT Dirgantara Indonesia. Menurutnya, PT Dirgantara Indonesia sulit berkembang dengan maksimal karena hanya mengandalkan produksi dan penjualan pesawat militer. Putra mantan Presiden BJ Habibie ini tak yakin pernyataan PT Dirgantara Indonesia bahwa penutupan produksi pesawat Gatot Kaca N250 karena tak laku di pasaran dunia. Menurutnya penutupan produksi tersebut karena perintah International Monetary Fund (IMF) tahun 1998, karena pada saat itu Indonesia harus melakukan penghematan uang akibat krisis yang menjadi syarat untuk penerimaan bantuan. "Jadi bukan karena pesawat Gatot Kaca N250 tidak laku terjual," kata Ilham kepada KONTAN di Jakarta, Kamis (10/9). Pria yang menjabat sebagai Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama ini bahkan meyakini jika produksi pesawat Gatot Kaca N250 dipasarkan sejak diluncurkan pada 10 Agustus 1995, pesawat tersebut mungkin sudah mendominasi pasar di Indonesia. Karena pesawat ini mirip dengan pesawat ATR yang sekarang banyak dioperasikan di Indonesia. "Saat ini pangsa pasar pesawat ATR yang terbesar di dunia itu dari Indonesia," ujar Ilham. Kini PT Dirgantara Indonesia hanya mengandalkan produksi dan penjualan pesawat militer. Kalaupun ada pesawat sipil, itu lebih untuk keperluan khusus seperti kargo. Padahal menurutnya bisnis penjualan pesawat militer sangat kental aroma politis.