GBK dan GWK, ikon Indonesia zaman now



Menyambut Asian Games XVIII pada Agustus mendatang, Gelora Bung Karno (GBK) direnovasi menjadi semakin megah dan spektakuler, mampu menampung 80.000 penonton, dengan jenis kursi single seat, dapat dilipat dan dapat menahan beban hingga 250 kg. Minggu (14/1), Presiden Jokowi meresmikan GBK yang akan menjadi venue pertandingan 45 negara yang berlaga di 44 cabang olahraga di Asian Games nanti.

Spesifikasi lain dari GBK adalah memiliki penerangan 3.500 lux lampu LED, terintegrasi dengan tata suara 80.000 watt. Dengan sistem drainase antibanjir, jenis rumput berkualitas tinggi, zoysia matrella, serta alat penyiram otomatis, dipastikan GBK akan menjadi kebanggaan Indonesia.

Ada dua keuntungan sekaligus terkait sport tourism, sebagai pemenang jelaslah membanggakan asal negara di kancah dunia, dan sebagai tuan rumah menjadi momentum emas meraih devisa. World Tourism Day 2004 yang dipusatkan di Malaysia bahkan mengangkat tema "Sport and Tourism: two living forces for mutual understanding, culture and the development of societies."


Even wisata yang ditandai dengan kedatangan kontingen, atlet, suporter dan official yang bertanding, menjadi berkah bagi perekonomian nasional dari sektor turisme bertema olah raga. Dengan begitu, dunia mengenal even olahraga tidak sebatas pertandingan antar negara, tetapi menyangkut gengsi sebagai tuan rumah, gengsi sebagai juara, pemahaman lintas budaya, dan pada akhirnya mempromosikan persaudaraan di antara bangsa-bangsa.  

Undang-undang Nomor 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional mempertegas adanya unsur rekreasi (wisata) dalam olah raga. Maksud dari perundangan itu semakin gamblang manakala ada dampak ekonomis dari event olahraga yang juga menjadi event pariwisata.

Olahraga di satu sisi sebagai pintu masuk bagi sektor pariwisata untuk mendatangkan devisa dan menggerakkan perekonomian lokal (serta nasional) tempat event olahraga diselenggarakan. Di sisi lain, olahraga juga menjadi indikator martabat negara, baik itu negara yang ketempatan sebagai tuan rumah, maupun negara yang keluar sebagai jawara kompetisi olah raga antarnegara.

Produk populer sport tourism di antaranya, rafting, sailing, racing, surfing, diving, snorkeling, triathlon, golf, mountain bike, dan lari maraton 10K. Beragam jenis olahraga inilah umumnya dikolaborasikan sebagai event pariwisata. Sebagai contoh, Tour de Singkarak, Tour de East Java, atau Sail Banda.

Secara khusus, wisata olahraga melalui even-even olahraga berkelas internasional, meskipun diadakan temporer, ditengarai sebagai motor pemicu peningkatan taraf ekonomi yang signifikan bagi tuan rumah penyelenggara. Arismundar (1997) menyatakan, pariwisata juga akan berkembang sampai ke wisata ilmu dan teknologi, serta wisata olah raga. Kebutuhan pariwisata dan olahraga dapat memicu bisnis baru, jasa dan produk baru. Di antaranya, jasa layanan tempat olah raga, perdagangan peralatan olahraga, dan terutama meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya olahraga.

Ikon dan landmarks zaman now

Tak hanya GBK yang bersolek, patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) juga akan selesai dibangun tahun ini. Dengan tinggi 75 meter dan lebar 64 meter, di dataran tinggi Jimbaran, Bali, patung ini akan menjadi yang tertinggi di dunia, mengalahkan Liberty. Patung GWK akan menjadi ikon baru bagi Bali khususnya, menyambut World Bank-International Monetary Fund (IMF) Annual Meeting di Bali pada Oktober 2018.

Pertemuan tersebut akan dihadiri 189 negara dengan delegasi 17.000 orang, terdiri dari menteri keuangan dan gubernur bank sentral, lembaga keuangan internasional, petinggi perusahaan, dan pengusaha kaya. Indonesia tercatat sebagai negara ASEAN keempat yang menjadi tuan rumah Annual Meeting IMF dan Bank Dunia setelah beberapa negara di kawasan ASEAN lainnya yang sebelumnya telah menjadi tuan rumah: Filipina tahun 1976, Thailand tahun 1991, dan Singapura 2006. Sebagai wajah Indonesia di dunia internasional, Asian Games dan World Bank-IMF Annual Meeting pasti menjadi intensi khusus nan khusyuk bagi segenap warga Indonesia.

Indonesia telah lama tidak menghasilkan karya masterpiece. Sejak era Hindu-Budha, Indonesia dikenal kaya dengan karya-karya sastra dan arsitektural yang mengartikulasikan sastra. Candi Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah dan Yogyakarta, hingga candi-candi peninggalan kerajaan Kadiri, Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur, karya lama di peradaban Indonesia. GBK dan GBK menjadi tanda dan penyemangat peradaban Indonesia zaman sekarang. Maknanya tidak sekadar bangunan, atau salah satu infrastruktur pendukung event bergengsi, tetapi lebih-lebih sebagai penanda, kekhasan, bahkan pembeda bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di dunia.

Hal serupa dinyatakan Bill Baker (2007: 92), beberapa variabel yang dapat digunakan dalam penentuan positioning suatu destinasi adalah kombinasi atau sinergi atas beberapa variabel yang dapat menjadi pembeda serta keunggulan bersaing suatu destinasi dengan destinasi lain. Yakni arsitektur dan design, atraksi wisata, iklim, sejarah dan kebudayaan, event, industri dan produk lokal, ikon dan landmarks, legenda dan mitos, lokasi dan akses, serta lingkungan dan masyarakat.

Ikon dan landmarks menjadi unsur penting dalam pembentukan ciri khas dan positioning secara khusus pariwisata Indonesia, dan secara luas menjadi cerminan jati diri, harga diri sebagai bangsa. Beberapa literatur menunjukkan adanya kesamaan penggunaan kata 'ikon' dalam ranah pariwisata dengan 'simbol' dan 'representatif'.

Beberapa ahli juga telah mengidentifikasi bahwa ikon dapat diterima oleh publik manakala memiliki asosiasi dengan sejarah dan budaya lokal (Tang et al., 2009). Pada akhirnya, ikon menjadi pengikat emosional suatu bangsa, yang dengannya akan 'membakar' semangat kecintaan seluruh warga bangsa kepada bangsa dan negaranya.

GBK dan GWK benar-benar membakar semangat dan cinta Tanah Air pada warga bangsa Indonesia zaman now. Semoga Asian Games XVIII dan World Bank-IMF Annual Meeting sukses.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Adi