KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Gedung Putih telah meninjau kandidat yang berpotensi menggantikan Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg, ungkap tiga orang yang mengetahui diskusi tersebut kepada
Reuters. Hal ini menjadi pertanda kemungkinan adanya perubahan kepemimpinan lebih lanjut di Pentagon, yang saat ini sudah menghadapi tingkat pergantian staf yang sangat tinggi. Upaya yang telah berlangsung sejak Juni ini mencakup pembicaraan dengan para anggota parlemen senior di Senat mengenai apakah pilihan pemerintah akan mendapatkan cukup dukungan untuk disetujui (dikonfirmasi), kata dua dari sumber tersebut; salah satunya menambahkan bahwa peninjauan masih berlangsung hingga akhir Agustus. Reuters tidak dapat memastikan kapan tepatnya Gedung Putih mulai mempertimbangkan kandidat-kandidat tersebut.
Baca Juga: AS dan China Bersiap untuk Perundingan Keamanan AI pada Pertengahan September Ketiga sumber menyatakan bahwa belum ada keputusan untuk mencopot Feinberg dari jabatannya. Mereka tidak menjelaskan alasan Gedung Putih meninjau calon pengganti maupun menyebutkan kandidat mana yang sedang dipertimbangkan oleh Gedung Putih. "Apa yang disebut sebagai 'sumber' anonim ini sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan," ujar juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly. "Presiden Trump menghargai kinerja Menteri Hegseth, Wakil Menteri Feinberg, dan seluruh jajaran Departemen Perang, yang rekam jejak keberhasilannya dalam Operasi Epic Fury, Operasi Absolute Resolve, dan Operasi Midnight Hammer telah terbukti dengan sendirinya," ujarnya, merujuk pada operasi militer AS di Iran dan Venezuela. Pentagon membantah adanya proses penggantian Feinberg. Saat dimintai komentar oleh Reuters, Hegseth menyatakan bahwa Feinberg mendapat dukungan penuh darinya dan "tidak akan ke mana-mana." Pentagon tidak memberikan komentar dari Feinberg dan menolak untuk menghadirkan yang bersangkutan dalam wawancara. Kepergian Feinberg akan menjadi pergantian pejabat paling senior di departemen yang telah mengalami serangkaian pengunduran diri tokoh-tokoh penting di bawah kepemimpinan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll mengundurkan diri minggu ini setelah berbulan-bulan mengalami ketegangan dengan Hegseth, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut. Pihak Angkatan Darat menolak berkomentar mengenai alasan kepergiannya. Menteri Angkatan Laut John Phelan dan beberapa pemimpin senior Angkatan Darat juga telah hengkang dalam beberapa bulan terakhir. Feinberg, yang bertekad mempercepat produksi amunisi AS, belum mencapai target tersebut menurut para analis, yang menilai bahwa basis industri AS tidak dapat meningkatkan kapasitas produksi dengan cepat. Beberapa eksekutif industri pertahanan mengatakan tugasnya terkendala oleh lambatnya proses pengalokasian dana oleh Kongres, meskipun ada tekanan besar dari pemerintah.
Baca Juga: Trump Ingin Tekan Harga Daging Sapi, Izinkan Peternak Lindungi Ternak dari Serigala Feinberg "telah bekerja tanpa lelah untuk membangun kembali Basis Industri Pertahanan kita dan memastikan militer memiliki segala yang dibutuhkan untuk meraih kemenangan; saya berharap dapat terus bekerja sama dengannya," ujar Hegseth dalam pernyataannya kepada Reuters. Ia menambahkan, "Dia melakukan pekerjaan luar biasa bagi Presiden Trump, bagi Departemen ini, dan bagi para prajurit kita."
Frustasi Terkait Perang Iran
Trump semakin sering mengungkapkan rasa frustrasinya atas minimnya kemajuan dalam perang Iran yang telah berlangsung selama enam bulan; konflik ini telah berubah menjadi kebuntuan yang memakan biaya besar antara AS dan Iran. Salah satu dampaknya adalah berkurangnya cadangan senjata AS. Reuters melaporkan bahwa militer AS menghadapi kekurangan signifikan pada jenis amunisi tertentu, sebuah situasi yang memicu kekhawatiran di kalangan Kongres dan para pemimpin militer. Trump menepis kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa AS memiliki "jauh lebih banyak amunisi dibandingkan negara mana pun di dunia." Namun, dalam sebuah pembicaraan dengan Trump di Camp David awal bulan ini—seperti dilaporkan oleh *Washington Post*—Hegseth menyalahkan Feinberg karena membiarkan stok rudal kendali jarak jauh dan pencegat pertahanan udara menyusut. Gedung Putih menyebut laporan tersebut sebagai "berita palsu" (
fake news). Dalam sebuah pernyataan kepada Reuters, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengatakan: "Menteri Hegseth tidak menyesatkan siapa pun mengenai postur amunisi kita, dan dia tidak menyalahkan Wakil Menteri Feinberg."
Baca Juga: Presiden China Xi Jinping Dikabarkan Akan Membawa Rombongan CEO Dalam Kunjungan ke AS Feinberg, yang ditunjuk oleh Trump tahun lalu, telah berupaya mengubah struktur Pentagon dengan meningkatkan investasi langsung militer AS pada berbagai perusahaan serta menyalurkan pinjaman kepada kontraktor militer melalui sejumlah unit di dalam departemen tersebut, termasuk Office of Strategic Capital (Kantor Modal Strategis) dan Economic Defense Unit (Unit Pertahanan Ekonomi) yang baru dibentuk.
Dalam sebuah memo tertanggal 18 Agustus yang ditujukan kepada perusahaan-perusahaan pertahanan dan telah dilihat oleh Reuters, Feinberg meminta para kontraktor untuk mempercepat produksi dan memberikan transparansi lebih lanjut terkait masalah penetapan harga. Pentagon tidak menanggapi pertanyaan mengenai memo tersebut. Feinberg juga mendapat sorotan di Capitol Hill, di mana Senator AS dari Partai Demokrat, Elizabeth Warren, mempertanyakan apakah mantan perusahaannya, Cerberus, dapat memperoleh keuntungan dari anggaran Pentagon untuk program pertahanan rudal Golden Dome. "Tidak ada konflik kepentingan antara Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg dan Cerberus," ujar Parnell. "Dia telah sepenuhnya melepas kepemilikan sahamnya di Cerberus dan mengundurkan diri dari segala pembahasan atau hubungan bisnis antara pihak eksekutif dan Cerberus." Cerberus tidak menanggapi permintaan komentar.