Gedung Putih Tegur Keras NATO soal Iran, Ini Akar Permasalahannya



KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai NATO telah diuji dan mereka gagal selama perang Iran. Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Rabu (8/4/2026), hanya beberapa jam sebelum Trump bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO.

Reuters melaporkan, Trump dan Sekjen NATO Mark Rutte bertemu di Gedung Putih ketika perang dengan Iran telah mendorong hubungan AS dengan anggota lain dari aliansi militer itu menuju titik krisis. 

Presiden dari Partai Republik tersebut telah mengancam akan menarik diri dari aliansi transatlantik beranggotakan 32 negara itu, serta mengecam sekutu-sekutu Eropa Washington dalam beberapa pekan terakhir karena dinilai kurang memberikan dukungan terhadap kampanye pengeboman AS-Israel terhadap Iran.


Trump mengatakan pada Selasa bahwa serangan akan dihentikan setelah “kedua pihak sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu.”

“Cukup menyedihkan bahwa NATO membelakangi rakyat Amerika selama enam minggu terakhir, padahal rakyat Amerikalah yang selama ini membiayai pertahanan mereka,” kata Leavitt dalam konferensi pers.

Leavitt mengatakan Trump akan melakukan percakapan yang sangat terbuka dan jujur dengan kepala NATO, yang tiba di Gedung Putih pada sore hari.

Trump menyerukan agar negara-negara yang bergantung pada minyak dari kawasan Teluk untuk mematahkan cengkeraman Iran atas Selat Hormuz. Namun, negara-negara Eropa kemungkinan tidak akan ikut serta dalam operasi pembersihan ranjau atau misi lain untuk membuka jalur pelayaran selama permusuhan masih berlangsung, menurut dua diplomat Eropa.

Iran telah bersumpah akan menghambat selat tersebut sampai perang berakhir.

Baca Juga: Kegembiraan Sementara: Gencatan Senjata AS-Iran Terganggu Serangan Israel dan Teheran

Titik Berbahaya bagi Aliansi

Rutte, yang dikenal di Eropa sebagai “pembisik Trump”, telah membangun hubungan hangat dengan Trump meski ada ketegangan, dan tahun lalu menyebut Trump sebagai “daddy” yang menangani keributan seperti perkelahian anak sekolah antara Israel dan Iran. Seorang diplomat Eropa lainnya menggambarkan pendekatan Rutte terhadap Trump sebagai penuh hormat, tetapi efektif.

Konflik terkait Iran memperburuk kekhawatiran transatlantik mengenai Ukraina, Greenland, dan belanja militer. Meski demikian, pejabat senior AS secara tertutup telah meyakinkan pemerintah Eropa bahwa pemerintahan Trump tetap berkomitmen pada NATO, menurut salah satu dari dua pejabat Eropa yang terlibat dalam percakapan tersebut.

“Ini adalah titik berbahaya bagi aliansi transatlantik,” kata Oana Lungescu, mantan juru bicara NATO yang kini bekerja di Royal United Services Institute, lembaga think tank berbasis di London.

Dalam pertemuan tertutup mereka, Rutte kemungkinan akan menyampaikan kepentingan bersama untuk memulihkan perdagangan maritim normal setelah permusuhan menyebabkan lonjakan harga energi secara global, kata dua diplomat tersebut. Ia juga diperkirakan akan mencoba membujuk pemimpin AS itu agar mengurangi kritik publik terhadap aliansi, sembari menonjolkan langkah-langkah negara Eropa untuk meningkatkan belanja pertahanan.

Seorang pejabat NATO mengatakan Rutte akan “berupaya meningkatkan kerja sama industri pertahanan” dan membahas perang di Iran dan Ukraina.

Namun, belum jelas apakah NATO, sebuah aliansi pertahanan yang berfokus pada Amerika Utara dan Eropa, akan memainkan peran besar di Timur Tengah. Rutte tidak mendapat mandat dari para pemimpin Eropa untuk berkomitmen pada operasi di Selat Hormuz ketika bertemu Trump, menurut salah satu diplomat.

“Saya memperkirakan ia akan melanjutkan dialog mengenai Ukraina dan pembagian beban dalam NATO,” kata seorang diplomat senior Eropa lainnya. 

Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Tak Serta-Merta Pulihkan Industri Penerbangan Global