Gedung Putih Undang OpenAI, Google hingga Meta Bahas Uji Keamanan AI



KONTAN.CO.ID - Sejumlah perusahaan pengembang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terbesar di Amerika Serikat dijadwalkan bertemu pejabat Gedung Putih pada Selasa (4/8/2026) untuk membahas pengujian keamanan siber secara sukarela terhadap model AI paling canggih.

Mengutip Reuters, perusahaan yang diundang dalam pertemuan tersebut antara lain Meta, Anthropic, OpenAI, dan Google.

Baca Juga: ​1.367 Bitcoin Raib dari Ribuan Dompet Coldcard, Kerugian Tembus Rp 1,6 Triliun


Pertemuan digelar setelah muncul kekhawatiran mengenai kemampuan AI yang semakin maju dalam melakukan atau memfasilitasi serangan siber.

Dalam beberapa hari terakhir, Anthropic dan OpenAI mengungkapkan bahwa sistem AI mereka mampu menembus sistem milik perusahaan lain dalam pengujian internal.

Pengungkapan tersebut memicu perhatian para anggota parlemen AS terkait potensi penyalahgunaan AI.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump telah merampungkan rancangan pengujian keamanan siber secara sukarela untuk mengukur kemampuan peretasan model AI paling canggih buatan Amerika Serikat.

Hasil rancangan tersebut akan dibahas bersama pelaku industri AI, meski Gedung Putih belum mengungkapkan secara rinci metode pengujian, metrik yang digunakan, mekanisme pelaporan hasil, maupun apakah hasilnya akan dipublikasikan.

Juru bicara Meta mengonfirmasi bahwa perusahaan tersebut menerima undangan menghadiri pertemuan. Dua sumber yang mengetahui agenda tersebut juga menyebut Anthropic dan OpenAI turut diundang.

Sementara itu, media teknologi The Information melaporkan Google juga diundang, namun perusahaan belum memberikan komentar.

Baca Juga: Korea Utara Tuding AS Gunakan Isu Ancaman Siber untuk Cemarkan Citra Pyongyang

OpenAI kembali menjadi sorotan

Perkembangan ini terjadi setelah 15 jaksa agung negara bagian dari Partai Republik pada Senin meminta OpenAI menyimpan seluruh dokumen yang berkaitan dengan pengungkapan bahwa salah satu sistem AI-nya berhasil keluar dari lingkungan pengujian (testing environment) dan meretas platform AI Hugging Face.

Mengutip laporan Reuters sebelumnya, agen AI tersebut bahkan meninggalkan catatan yang menjelaskan bagaimana versi AI berikutnya dapat menghindari mekanisme pengamanan internal.

Baca Juga: Inflasi Korea Selatan Turun ke 2,8% pada Juli 2026, di Bawah Ekspektasi Pasar

Para jaksa agung menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar undang-undang perlindungan konsumen di tingkat negara bagian.

OpenAI menyatakan pihaknya menanggapi surat tersebut secara serius dan akan merilis laporan teknis mengenai insiden peretasan terhadap Hugging Face setelah proses peninjauan internal selesai.

Di sisi lain, Komite Keamanan Siber DPR AS juga meminta CEO OpenAI Sam Altman memberikan penjelasan mengenai insiden tersebut.

OpenAI mengungkapkan Altman telah bertemu pejabat Gedung Putih pekan lalu untuk membahas rincian pengujian sukarela tersebut sekaligus memperkenalkan produk AI terbaru perusahaan.

Dalam pernyataan terpisah, OpenAI juga meminta pemerintahan Trump menempatkan para ahli keselamatan AI dari Departemen Perdagangan AS sebagai pihak utama dalam pelaksanaan pengujian keamanan siber.

Perusahaan menilai langkah tersebut penting mengingat China menerapkan strategi pengembangan AI yang lebih terpusat dibandingkan Amerika Serikat.

Baca Juga: TikTok Capai Kesepakatan Damai dalam Gugatan Dampak Media Sosial pada Remaja

Hubungan pemerintah AS dan Anthropic sempat memanas

Pemerintahan Trump diketahui memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan Anthropic.

Awal tahun ini, Anthropic menolak memberikan izin kepada militer AS untuk menggunakan model AI miliknya dalam pengawasan domestik maupun sistem persenjataan otonom sepenuhnya.

Sebagai respons, pemerintah AS memasukkan perusahaan tersebut ke dalam daftar hitam keamanan nasional.

Pekan lalu, Anthropic juga mengungkapkan bahwa beberapa model AI miliknya berhasil meretas sistem tiga perusahaan dalam uji keamanan siber.

Baca Juga: Grab Revisi Naik Target Pendapatan 2026, Buyback Saham US$ 750 Juta

Pengungkapan itu menyusul laporan OpenAI yang menyebut salah satu agen AI buatannya berhasil keluar dari lingkungan pengujian dan meretas sistem milik Hugging Face.

Pada Juni lalu, Presiden Donald Trump telah memerintahkan timnya menyusun serangkaian pengujian untuk menilai kemampuan peretasan model AI paling canggih yang dikembangkan perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat.