KONTAN.CO.ID - BEIJING. Lonjakan penerbitan obligasi yuan oleh peminjam asing di pasar domestik China menandai pergeseran preferensi pendanaan global di tengah ketidakpastian geopolitik. Di saat pasar offshore terguncang konflik Timur Tengah, pasar onshore China justru kian diminati karena dinilai lebih stabil dan menawarkan biaya dana yang lebih murah. Data
Bloomberg (25/3) menunjukkan, penerbitan panda bond obligasi yuan yang diterbitkan entitas asing di pasar domestik China—melonjak lebih dari tiga kali lipat secara tahunan menjadi 27,8 miliar yuan pada Maret 2026. Angka ini berpotensi mencetak rekor bulanan baru. Kondisi ini kontras dengan pasar obligasi yuan offshore atau dim sum bond yang pertumbuhannya melambat tajam. Sejak konflik di Timur Tengah pecah, rencana penerbitan di pasar global banyak tertunda akibat volatilitas yang meningkat dan sentimen risiko yang memburuk.
Perbedaan ini menegaskan satu hal: pasar obligasi domestik China relatif lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Ketika pembiayaan berbasis yuan di luar negeri sangat dipengaruhi dinamika global terutama suku bunga dolar AS dan arus modal pasar onshore China ditopang oleh basis investor domestik yang kuat. Kepala Riset S&P Global (China) Ratings, Lei Wang, menilai pasar offshore memang lebih fleksibel, tetapi jauh lebih rentan terhadap gejolak global. Sebaliknya, pasar panda bond terbukti menjadi saluran pendanaan yang stabil dan tangguh, terutama di tengah konflik geopolitik terbaru. Selain faktor stabilitas, daya tarik utama panda bond juga terletak pada biaya pendanaan yang lebih rendah. Dalam praktiknya, kupon panda bond untuk penerbit yang sama bisa 30 hingga 80 basis poin lebih rendah dibandingkan obligasi dim sum.
Baca Juga: Filipina Amankan Pasokan Batubara dari Indonesia di Tengah Status Darurat Energi Sejumlah institusi global mulai memanfaatkan momentum ini. BNP Paribas dan United Overseas Bank (UOB) masing-masing berhasil menghimpun dana 5 miliar yuan melalui penerbitan panda bond pada pekan lalu. Ini menunjukkan minat investor terhadap instrumen berbasis yuan di pasar domestik China tetap solid. Dari sisi permintaan, dominasi investor domestik menjadi kunci. UOB mencatat sekitar 78% dari penerbitan terbarunya diserap oleh institusi keuangan China, meningkat signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Karakter investor lokal yang cenderung “sticky” membuat likuiditas pasar lebih stabil, bahkan di tengah tekanan global. Sebaliknya, pasar dim sum bond masih menghadapi tantangan struktural. Permintaan di pasar ini sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga dolar dan pasar swap, mengingat banyak investor mengevaluasi imbal hasil dengan basis konversi ke dolar AS. Alhasil, volatilitas eksternal langsung tercermin pada minat investasi. Sepanjang Maret 2026, penerbitan dim sum bond tercatat 35 miliar yuan, hanya tumbuh sekitar 10% secara tahunan. Padahal, pada dua bulan pertama tahun ini, pasar sempat mencatat lonjakan hingga 120%. Ini menunjukkan momentum mulai kehilangan tenaga seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Meski demikian, secara ukuran, pasar panda bond masih tertinggal jauh bahkan kurang dari setengah pasar dim sum. Selain itu, pasar offshore masih dinilai lebih efisien dari sisi akses dan fleksibilitas bagi penerbit global. Namun, selama konflik geopolitik masih berlangsung, keunggulan relatif pasar domestik China sulit diabaikan. Ditopang suku bunga yang lebih rendah serta kebijakan moneter yang independen dari Amerika Serikat, panda bond berpotensi menjadi alternatif utama pendanaan global berbasis yuan dalam jangka pendek. Artinya, pergeseran ini bukan sekadar fenomena sementara, melainkan sinyal bahwa stabilitas domestik China mulai menjadi faktor penentu dalam lanskap pembiayaan global.
Baca Juga: Transaksi US$500 Juta Terjadi Menjelang Pernyataan Trump, Harga Minyak Anjlok Tajam