Gejolak Timur Tengah: Houthi dan Iran Resmi Sekutu, Dunia Bergejolak



KONTAN.CO.ID - CAIRO/DUBAI — Risiko perluasan perang di Iran semakin nyata. Pejuang Houthi dari Yaman resmi beraliansi dengan Iran meluncurkan serangan perdana ke Israel pada Sabtu, menandai eskalasi baru sejak konflik pecah. 

Di saat yang sama, militer Amerika Serikat (AS) mulai menerjunkan pasukan tambahan kekuatan tempur besar-besaran di wilayah Timur Tengah. 

Baca Juga: Ribuan Warga AS Turun ke Jalan, Protes Kebijakan Trump dengan Tajuk No Kings


Washington mengklaim telah mengerahkan ribuan personel Korps Marinir ke wilayah tersebut dalam perang yang baru berusia satu bulan ini. 

Rusia–Iran Bahas Jalur Damai, Bayang-Bayang Dukungan Militer Kian Menguat
© 2026 Konten oleh Kontan
Kontingen pertama dari dua kelompok pasukan tiba pada Jumat (27/3) menggunakan kapal serbu amfibi. Tak berhenti di situ, Pentagon dilaporkan tengah mempersiapkan operasi darat selama berminggu-minggu di Iran, yang berpotensi melibatkan serangan kilat oleh Pasukan Khusus (Special Operations) dan infanteri konvensional. 

Meskipun demikian, kepastian penempatan pasukan darat di bawah kendali Presiden Donald Trump masih bersifat belum pasti.

Disrupsi Energi 

Perang yang meletus sejak 28 Februari ini telah memicu guncangan hebat pada ekonomi dunia melalui disrupsi pasokan energi global terbesar sepanjang sejarah. 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa AS berupaya mencapai target tanpa pasukan darat, namun pengiriman personel militer tetap dilakukan guna memberikan fleksibilitas maksimal bagi Trump dalam menyesuaikan strategi. 

WFH 1 Hari Seminggu 2026: Antisipasi Krisis Energi & Dampaknya ke Ekonomi Indonesia
© 2026 Konten oleh Kontan
Selain Marinir, Pentagon juga diprediksi akan mengerahkan ribuan prajurit dari Divisi Airborne ke-82, termasuk mengerahkan kapal Induk USS George H. W. Bush (CVN-77) untuk bergabung ke komando militer Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas wilayah Timur Tengah atau United States Central Command (US CENTCOM).

Di sisi lain, upaya mediasi mulai digalang. Pakistan dijadwalkan menjadi tuan rumah pembicaraan dua hari mulai Minggu (29/3), menghadirkan Menlu Arab Saudi, Turki, dan Mesir. 

Langkah ini diambil pasca komunikasi intensif antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan PM Pakistan Shehbaz Sharif.

Baca Juga: Pakistan Jadi Mediator AS-Iran, Upayakan Stabilitas Pasokan Energi Global

Serangan Balasan

Militer Israel mengonfirmasi telah menargetkan serangan ke tempat yang diklaim sebagai infrastruktur manufaktur senjata di Teheran, termasuk puluhan lokasi penyimpanan dan produksi senjata. 

Media pemerintah Iran melaporkan lima orang tewas dalam serangan di pelabuhan Bandar-e-Khamir yang juga menghancurkan dua kapal perang.

Di Lebanon, serangan Israel menghantam kendaraan media yang menewaskan tiga jurnalis dan seorang tentara Lebanon. Israel berdalih salah satu jurnalis tersebut merupakan bagian dari unit intelijen Hisbbullah. 

Sementara itu, Iran terus memangkas keamanan wilayah lewat serangan drone, termasuk yang menyasar kediaman pemimpin Kurdi Irak pendukung Amerika dan Israel, Masoud Barzani, di Erbil.

Tonton: Sesumbar Menlu AS Rubio: Operasi Militer di Iran Selesai dalam Hitungan Minggu

Ancaman Baru 

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan pihaknya telah melancarkan serangan kedua ke Israel dan bersumpah akan ada serangan lanjutan. 

Aksi ini menjadi ancaman serius bagi pelayaran global, mengingat Selat Hormuz—jalur bagi seperlima pasokan minyak dan LNG dunia—telah lumpuh. 

Pejuang Houthi kini berpotensi memperluas front serangan ke Selat Bab el-Mandeb yang merupakan pintu masuk menuju Terusan Suez.

Di tengah tekanan politik menjelang Pemilu Sela Amerika Serikat pada November 2026 mendatang, Presiden AS Donald Trump terlihat ingin segera mengakhiri konflik namun tetap menebar ancaman eskalasi. 

Ia mengancam akan menerjang pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka. 

Untuk saat ini, Iran memberikan relaksasi terbatas dengan mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan melintasi selat tersebut, dengan kuota dua kapal per hari.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa Teheran akan membalas dengan kekuatan penuh jika infrastruktur ekonomi atau pusat energi mereka menjadi target serangan lanjutan.

Kejaksaan Agung Tahan Samin Tan! Skandal Tambang Ilegal 9 Tahun, Denda Rp4,2 Triliun Dibongkar
© 2026 Konten oleh Kontan