KONTAN.CO.ID - CAIRO/DUBAI — Risiko perluasan perang di Iran semakin nyata. Pejuang Houthi dari Yaman resmi beraliansi dengan Iran meluncurkan serangan perdana ke Israel pada Sabtu, menandai eskalasi baru sejak konflik pecah. Di saat yang sama, militer Amerika Serikat (AS) mulai menerjunkan pasukan tambahan kekuatan tempur besar-besaran di wilayah Timur Tengah. Baca Juga: Ribuan Warga AS Turun ke Jalan, Protes Kebijakan Trump dengan Tajuk No Kings
Rusia–Iran Bahas Jalur Damai, Bayang-Bayang Dukungan Militer Kian Menguat
© 2026 Konten oleh Kontan
Disrupsi Energi
Perang yang meletus sejak 28 Februari ini telah memicu guncangan hebat pada ekonomi dunia melalui disrupsi pasokan energi global terbesar sepanjang sejarah. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa AS berupaya mencapai target tanpa pasukan darat, namun pengiriman personel militer tetap dilakukan guna memberikan fleksibilitas maksimal bagi Trump dalam menyesuaikan strategi.WFH 1 Hari Seminggu 2026: Antisipasi Krisis Energi & Dampaknya ke Ekonomi Indonesia
© 2026 Konten oleh Kontan
Serangan Balasan
Militer Israel mengonfirmasi telah menargetkan serangan ke tempat yang diklaim sebagai infrastruktur manufaktur senjata di Teheran, termasuk puluhan lokasi penyimpanan dan produksi senjata. Media pemerintah Iran melaporkan lima orang tewas dalam serangan di pelabuhan Bandar-e-Khamir yang juga menghancurkan dua kapal perang. Di Lebanon, serangan Israel menghantam kendaraan media yang menewaskan tiga jurnalis dan seorang tentara Lebanon. Israel berdalih salah satu jurnalis tersebut merupakan bagian dari unit intelijen Hisbbullah. Sementara itu, Iran terus memangkas keamanan wilayah lewat serangan drone, termasuk yang menyasar kediaman pemimpin Kurdi Irak pendukung Amerika dan Israel, Masoud Barzani, di Erbil. Tonton: Sesumbar Menlu AS Rubio: Operasi Militer di Iran Selesai dalam Hitungan MingguAncaman Baru
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan pihaknya telah melancarkan serangan kedua ke Israel dan bersumpah akan ada serangan lanjutan. Aksi ini menjadi ancaman serius bagi pelayaran global, mengingat Selat Hormuz—jalur bagi seperlima pasokan minyak dan LNG dunia—telah lumpuh. Pejuang Houthi kini berpotensi memperluas front serangan ke Selat Bab el-Mandeb yang merupakan pintu masuk menuju Terusan Suez.Kejaksaan Agung Tahan Samin Tan! Skandal Tambang Ilegal 9 Tahun, Denda Rp4,2 Triliun Dibongkar
© 2026 Konten oleh Kontan