KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dan pengetatan jalur pelayaran di Selat Hormuz berdampak langsung terhadap industri kimia global. Industri kimia terhantam oleh kenaikan harga minyak yang mendongkrak biaya produksi petrokimia. Ketua Umum Asosiasi Industri Kimia Khusus Indonesia (AIKKI) Ridwan Adipoetra menyoroti bahwa industri petrokimia di Asia dan Eropa yang masih bergantung pada naphtha sebagai bahan baku menghadapi tekanan biaya yang lebih besar. Apabila produksi petrokimia terganggu, maka akan berdampak pada kelancaran produksi di industri kimia khusus. Di Indonesia, kondisi ini menyebabkan sejumlah pemasok resin menyatakan keadaan kahar (
force majeure), sehingga pasokan bahan baku bagi industri kimia khusus ikut terdampak. Tanpa merinci lebih lanjut, Ridwan mengatakan bahwa dampaknya terlihat pada kenaikan harga raw material serta keterbatasan pasokan beberapa bahan kimia khusus.
Baca Juga: Indonesia Buka Potensi Diversifikasi Impor Minyak dari Brunei Darussalam Guna mengantisipasi kondisi tersebut, sejumlah pabrik melakukan peninjauan kembali terhadap pesanan yang masuk guna mencegah
panic buying dan memastikan distribusi stok tetap terjaga. Hanya saja, gangguan pasokan ini juga menyebabkan sebagian pelanggan mengalami kesulitan produksi sehingga terjadi penundaan atau penahanan pesanan di beberapa sektor industri. "Selain itu, ekspor produk industri kimia khusus juga menghadapi hambatan pengiriman, terutama untuk rute yang melewati Selat Hormuz," terang Ridwan saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (15/3/2026). Pelaku industri kimia khusus pun saat ini berfokus pada empat langkah mitigasi.
Pertama, memperkuat sistem
forecasting dan
procurement planning untuk mengantisipasi fluktuasi pasokan serta harga bahan baku.
Kedua, melakukan diversifikasi sumber bahan baku dengan mencari alternatif pemasok dari berbagai negara atau kawasan.
Ketiga, meningkatkan efisiensi energi dan proses produksi guna menekan biaya operasional akibat kenaikan harga energi.
Keempat, memperkuat kerja sama perdagangan internasional untuk menjaga stabilitas akses terhadap bahan baku dan pasar. Di sisi yang lain, AIKKI berharap dalam waktu dekat stabilitas pasokan bahan baku menjadi lebih baik, sehingga proses produksi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Hantam Industri Plastik, Bahan Baku Seret dan Harga Melonjak Selain itu, kondisi logistik dan layanan perusahaan pelayaran diharapkan lebih stabil dan efisien, sehingga distribusi bahan baku dan produk menjadi lebih baik. Apabila hal-hal tersebut dapat tercapai, maka harapannya biaya produksi industri kimia khusus dapat lebih terkendali. Sebelumnya, Ridwan menyoroti bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah menimbulkan tekanan terhadap rantai pasok global serta meningkatkan volatilitas harga energi dan bahan baku. Selain itu, kenaikan harga minyak dan potensi lonjakan biaya logistik serta premi asuransi pengiriman juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi karena dapat menekan margin industri.
Salah satu langkah mitigasi adalah melakukan diversifikasi sumber bahan baku dengan mencari alternatif pasokan dari negara-negara yang relatif tidak terdampak konflik, sehingga risiko gangguan rantai pasok dan volatilitas harga dapat ditekan. Selain itu, pelaku industri berupaya melakukan diversifikasi pasar ekspor dengan mengalihkan fokus penjualan ke negara atau kawasan yang tidak terdampak langsung oleh konflik. Langkah ini penting untuk menjaga arus kas serta mempertahankan tingkat utilisasi produksi agar tetap optimal. Di sisi domestik, penguatan pasar dalam negeri turut menjadi strategi utama, dengan memaksimalkan penyerapan produk oleh industri pengguna di dalam negeri guna menjaga stabilitas pendapatan. "Pada saat yang sama, perusahaan melakukan efisiensi operasional dan penguatan manajemen risiko, termasuk meninjau kembali kontrak logistik serta mengantisipasi potensi kenaikan premi asuransi dan biaya pengiriman yang dapat menekan margin usaha," tandas Ridwan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News