KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak geopolitik global kembali menekan kinerja atau return hampir seluruh instrumen investasi pada Maret 2026. Berdasarkan data Bloomberg per akhir Maret 2026, emas spot membukukan return minus 11,5% secara bulanan (MoM) namun masih positif 6,16% sejak awal tahun (YtD) hingga Maret 2026. Emas Antam juga terkoreksi 7,16% MoM tapi masih naik sekitar 13% YtD. Tekanan juga terjadi di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 14,4% MoM dan 18% YtD.
Sementara itu, obligasi korporasi dan pemerintah masing-masing mencatatkan return minus 1,21% dan 2,08% secara bulanan. Di sisi lain, nilai tukar USD/IDR justru menguat dengan return positif 1,5% MoM.
Baca Juga: BEI Rilis 4 Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, Ini Daftarnya Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, penurunan kinerja berbagai aset investasi tersebut terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz, melonjakkan harga minyak mentah dunia, sehingga memicu potensi tekanan ekonomi dunia. Lukman bilang, pelemahan emas merupakan koreksi yang wajar setelah reli panjang sejak awal tahun. “Penurunan emas ini menurut saya wajar menyusul rally yang cukup panjang dan kenaikan fantastis mengawali tahun 2026,” katanya Lukman kepada Kontan, Kamis (2/4/2026). Sebaliknya, kenaikan kripto dinilai lebih sebagai rebound teknikal setelah koreksi dalam beberapa bulan sebelumnya. “Kripto dengan contoh BTC, justru kebalikkan, koreksi besar sejak Oktober, rebound di bulan Maret sangat tidak signifikan,” kata Lukman. Per akhir Maret 2026, kinerja kripto yang mulai pulih. Bitcoin mencatatkan return 4,3% MoM, meski masih turun 16,34% YtD. Ethereum bahkan menguat 10,2% MoM dengan posisi YtD masih minus 16,9%.
Tertekan Dolar AS
Menurut Lukman, baik emas maupun kripto sama-sama tertekan oleh penguatan dolar AS yang didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun, secara fundamental keduanya memiliki arah berbeda. “Emas masih didukung permintaan fisik bank-bank sentral, sedangkan BTC cenderung tidak jelas dan spekulatif. Jadi sebenarnya arah kedua aset itu berbeda secara fundamental,” jelas Lukman.
Baca Juga: Emas Tertekan, IHSG Melemah, Kripto Rebound: Begini Strategi Investasi 2026 Meski terkoreksi, Lukman melihat prospek jangka panjang emas masih positif. Ia menilai pelemahan saat ini dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi. Namun demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan risiko suku bunga dan ketidakpastian durasi konflik geopolitik. Kata Lukman, selama ketegangan masih berlangsung, harga emas berpotensi bergerak terbatas. Untuk tahun 2026, Lukman memperkirakan harga emas spot berada di kisaran US$ 5.700 hingga US$ 6.000 dolar AS per ons troi, dengan potensi kenaikan sekitar 20%–30%. Sejalan dengan itu, harga emas Antam diproyeksikan berada di kisaran Rp 3,4 juta hingga Rp 3,7 juta per gram.
Strategi Investasi
Di tengah kondisi global yang dinamis, Lukman menekankan pentingnya strategi diversifikasi lintas aset. Ia menyarankan investor menjaga keseimbangan antara aset defensif dan aset pertumbuhan. Ia merekomendasikan beberapa instrumen yang layak dicermati, antara lain emas sebagai lindung nilai, serta perak yang juga didukung permintaan dari sektor energi terbarukan.
Baca Juga: IHSG Melemah Pekan Ini, Lonjakan Harga Minyak Tekan Sentimen Pasar Selain itu, investor dapat mulai mengakumulasi saham-saham blue chip, terutama di sektor energi, komoditas, dan sektor dengan fundamental kuat. Sementara itu, obligasi khususnya US Treasury dinilai berpotensi menguat signifikan apabila konflik mereda. “Harga akan naik tajam seketika perang usai,” katanya. Lukman menyarankan, strategi investasi di tahun ini harus bersifat fleksibel dan adaptif terhadap perubahan global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News