Gelar RUPST, Merdeka Battery Materials (MBMA) Ubah Susunan Pengurus



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 pada Selasa (23/6) lalu yang menyetujui Laporan Tahunan tahun buku 2025 dan mengesahkan laporan keuangan konsolidasian MBMA untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025, serta sejumlah keputusan strategis untuk mendukung agenda pertumbuhan MBMA pada masa depan.

Melalui RUPST, pemegang saham menyetujui pengangkatan James Nicholas dan Ashutosh Srivastava Fausimm sebagai  Direktur yang efektif sejak ditutupnya RUPST. James Nicholas akan memperkuat fungsi keuangan MBMA sebagai Chief Financial Officer, sementara Ashutosh Srivastava Fausimm akan mendukung pelaksanaan operasional MBMA sebagai Direktur Operasional.

RUPST juga menyetujui pengunduran diri Anthony Kartono Tan dari jabatannya sebagai Direktur. MBMA menyampaikan apresiasi atas kontribusi dan dedikasi Anthony selama menjabat.


Baca Juga: Tertekan Sentimen Eksternal, Rupiah Berisiko Kembali ke Rp 18.000 per Dolar AS

“Penguatan susunan Direksi diharapkan dapat mendukung fokus MBMA pada disiplin keuangan, eksekusi operasional, dan penciptaan nilai jangka panjang seiring pengembangan posisi perusahaan dalam rantai nilai bahan baku baterai,” ujar Presiden Direktur Merdeka Battery Materials Teddy Nuryanto Oetomo dalam siaran pers, Rabu (24/6/2026).

Dengan pengangkatan tersebut, susunan Direksi dan Dewan Komisaris MBMA adalah sebagai berikut:

  • Presiden Komisaris : Winato Kartono
  • Komisaris : Michael W.P. Soeryadjaya
  • Komisaris Independen : Prof. Dr. Didi Achjari
  • Presiden Direktur : Teddy Nuryanto Oetomo
  • Direktur : Titien Supeno
  • Direktur : James Nicholas
  • Direktur : Ashutosh Srivastava Fausimm
MBMA juga menyampaikan laporan realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan I Merdeka Battery Materials Tahap I, II, dan III Tahun 2025, serta Penawaran Umum Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Merdeka Battery Materials Tahap I, II, dan III Tahun 2025. Laporan tersebut disampaikan kepada pemegang saham sesuai dengan ketentuan pasar modal dan tidak memerlukan persetujuan pemegang saham.

Sebagai informasi, sepanjang 2025, MBMA tetap menunjukkan ketahanan kinerja di tengah pelemahan harga nikel global. MBMA membukukan pendapatan sekitar US$ 1,44 miliar dan EBITDA sebesar US$ 219 juta, didukung oleh peningkatan volume produksi nikel, kontribusi yang lebih baik dari operasi hilir, serta disiplin biaya yang berkelanjutan di sepanjang rantai nilai.

Baca Juga: Cermati Strategi Pengelolaan Portofolio di Tengah Fluktuasi Harga Minyak Global

Tambang nikel Sulawesi Cahaya Mineral menjadi salah satu pendorong utama model bisnis terintegrasi perusahaan dengan produksi 7,0 juta wet metric tonnes (wmt) bijih saprolit dan 14,7 juta wmt bijih limonit pada 2025. Operasi hilir juga memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan, dengan produksi Nickel Pig Iron (NPI) sebesar 73.871 ton, High-Grade Nickel Matte (HGNM) sekitar 19.998 ton, serta Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sekitar 25.994 ton.

Teddy mengatakan, keputusan RUPST mendukung fase pertumbuhan berikutnya seiring peningkatan skala produksi, pendalaman integrasi, dan penguatan eksekusi MBMA di seluruh portofolio perusahaan. MBMA pun berhasil mempertahankan kinerja yang tangguh di tengah tekanan harga nikel global, didukung oleh peningkatan volume produksi dan peningkatan margin di operasi hilir.

"Kami akan terus mempercepat pengembangan ekosistem hilir terintegrasi untuk memperkuat pertumbuhan jangka panjang perusahaan,” ujar Teddy.

Memasuki 2026, MBMA menargetkan pertumbuhan berkelanjutan di seluruh lini operasi. MBMA menargetkan produksi bijih saprolit sebesar 8 juta hingga 10 juta wmt dan produksi bijih limonit sebesar 20 juta hingga 25 juta wmt. Di sektor hilir nikel, MBMA menargetkan produksi NPI sebesar 70.000 ton hingga 80.000 ton dan HGNM sebesar 44.000 ton hingga 48.000 ton.

MBMA juga terus memajukan sejumlah proyek strategis untuk meningkatkan integrasi dan efisiensi. MBMA telah mulai mengoperasikan Feed Preparation Plant (FPP) untuk mengirimkan slurry limonit melalui jalur pipa dari tambang SCM ke fasilitas HPAL yang dioperasikan oleh PT ESG New Energy Material. Proyek HPAL SLNC yang memiliki kapasitas terpasang 90.000 ton nikel per tahun terus berjalan sesuai rencana dengan commissioning lini pertama ditargetkan pada semester II-2026.

Untuk ke depannya, MBMA akan terus berfokus pada efisiensi operasional, alokasi modal yang disiplin, dan pengembangan  portofolio bahan baku baterai yang terintegrasi. MBMA berkomitmen untuk mendukung peran Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global melalui operasi yang bertanggung jawab, pengembangan hilirisasi, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News