Gelombang AI Memuncak, 6.000+ Leaders Berkumpul di IHCBS Cari Strategi Produktivitas



KONTAN.CO.ID - Integrasi kecerdasan buatan (AI) secara signifikan memudahkan proses dan mengurangi beban kerja karyawan. Namun, masifnya penggunaan AI juga menjadi risiko yang mengancam produktivitas pekerja. Terlebih, jika perusahaan tidak mampu merespons pelebaran skill gap di tengah gempuran teknologi mutakhir.

Fenomena ini membuat isu pengembangan talenta kembali menjadi perhatian utama di berbagai perusahaan. Di banyak perusahaan, diskusi mengenai AI kini berjalan beriringan dengan pembahasan tentang produktivitas, kepemimpinan, budaya kerja, keterampilan masa depan, hingga strategi membangun perusahaan yang lebih adaptif.

Merespons kondisi ini, Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) kemudian hadir sebagai forum yang mampu mempertemukan berbagai perspektif dalam satu ruang diskusi. Dalam dua tahun berturut-turut, IHCBS menghadirkan ribuan peserta dari berbagai sektor. Sebagai salah satu forum human capital terbesar di Indonesia. kini IHCBS menjadi salah satu agenda tahunan yang dinantikan oleh komunitas HR dan business leaders.


Mengusung tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity”, IHCBS 2026 akan diselenggarakan pada 15–16 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta. Selama dua hari perhelatannya, forum ini akan menghadirkan lebih dari 70 pembicara nasional dan internasional yang membawakan topik-topik strategis. Selain itu, IHCBS 2026 juga mempertemukan lebih dari 6.000 pengambil keputusan lintas industri, serta dari sektor pemerintahan dan akademisi.

Kontan - IHCBS Kilas Online
© Foto oleh IHCBS
Suwardi Luis, CEO One GML dan Founder QuBisa menegaskan bahwa, “Di IHCBS 2026, kami fokus pada Human-Centric AI, bagaimana teknologi bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya. Melalui Human-Centric AI, kita memperkuat kapasitas manusia untuk bekerja lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih berdampak.”

Cipta Wahyana selaku Managing Director KontanNews, menyampaikan bahwa percepatan adopsi AI menjadikan isu produktivitas dan kesiapan talenta sebagai agenda strategis di berbagai industri. “Perusahaan kini tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga SDM yang siap bertumbuh bersama teknologi. IHCBS 2026 menjadi forum relevan yang mempertemukan pemimpin bisnis, HR, regulator, dan pemangku kepentingan dalam ekosistem kolaboratif, sekaligus membuka insight strategis, networking, dan peluang kolaborasi di era transformasi,” ujarnya.

Melalui kehadiran pembicara dari berbagai latar belakang, IHCBS berupaya menyajikan gambaran yang lebih utuh mengenai arah perubahan dunia kerja dan bisnis. Tidak hanya dari sudut pandang praktisi human capital, tetapi juga dari perspektif CEO, business leaders, akademisi, pemimpin transformasi digital, hingga pembuat kebijakan.

Tahun ini, IHCBS akan diisi oleh deretan pembicara ternama, seperti Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D (Menteri Ketenagakerjaan), Paul Choo (CHRO Bridgestone Asia Pacific, Lead HR Transformation in 14 Countries), Brenda Sugrue (EY Global Chief Learning Officer, Winner of UK CLO Awards), Dony Oskaria (Chief Operation Officer Danantara) yang akan hadir secara langsung di panggung Mega Session. Jajaran pemimpin bisnis dan Direktur HR dari perusahaan terkemuka seperti Pertamina, Mayapada Hospital, serta banyak perusahaan lainnya juga akan turut hadir sebagai pembicara.

Keberagaman perspektif tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat IHCBS semakin diminati. Sebab, tantangan bisnis saat ini tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan yang parsial. Strategi talenta, teknologi, kepemimpinan, dan pertumbuhan bisnis kini saling terhubung dalam satu ekosistem yang sama.

Selain sesi diskusi dan berbagi wawasan, IHCBS menjadi kesempatan untuk bertukar pengalaman, memperluas jejaring, dan membuka peluang kolaborasi. Hal ini sering kali menjadi nilai yang sama pentingnya dengan materi yang disampaikan di atas panggung.

Di tengah perubahan yang berlangsung semakin cepat, banyak perusahaan tidak lagi mencari teori-teori baru. Yang mereka butuhkan adalah pengalaman nyata dari para pemimpin yang telah menghadapi tantangan serupa.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika berbagai sektor industri menghadapi tekanan yang hampir sama. Mulai dari kebutuhan peningkatan produktivitas, percepatan transformasi digital, perubahan pola kerja, hingga semakin ketatnya persaingan dalam mendapatkan talenta berkualitas.

Yunus Triyonggo, Ketua Steering Committee Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), menyampaikan bahwa transformasi ini tidak bisa lagi ditunda, “Tanpa talenta yang cakap teknologi, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi angan-angan. IHCBS 2026 menjadi katalisator bagi transformasi ini, mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berhenti berwacana dan mulai beraksi dalam mencetak tenaga kerja yang kompetitif secara global.”

Pada akhirnya, produktivitas bukan lagi sekadar indikator kinerja perusahaan. Produktivitas telah menjadi salah satu penentu kemampuan perusahaan untuk bertahan, beradaptasi, dan bertumbuh. Di tengah percepatan perubahan akibat AI dan digitalisasi, perusahaan yang mampu menyiapkan talenta yang mampu mengadaptasinya akan memiliki keunggulan kompetitif yang lebih besar. Karena itu, IHCBS 2026 hadir sebagai ruang kolaborasi untuk mempertemukan para pemimpin yang tidak hanya membahas masa depan, tetapi juga membangun strategi untuk mewujudkannya.

Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran, kunjungi: https://bit.ly/43dPafW

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: