KONTAN.CO.ID - KLEINMOND. Gelombang protes anti imigran yang disertai kekerasan melanda Afrika Selatan dalam bebeapa minggu terakhir. Peristiwa ini bahkan menimbulkan korban tewas dan membuat banyak imigran terusir dari tempat tinggalnya. Salah satunya Lado Amido, imigran asal Mozambik. Sebagaimana diberitakan
Reuters, empat hari lalu, Amido mendapati rumahnya didatangi oleh kerumunan warga yang marah dan mengusir ia dari rumahnya di Kleinmond. Orang-orang tersebut mendatangi rumah para imigran satu-persatu. “Pada tanggal 31, orang-orang datang ke rumah saya, mengetuk pintu, dan kemudian mengambil semua barang-barang saya,” kata pria berusia 49 tahun itu. Amido berada di Afrika Selatan sejak Februari untuk mencari pekerjaan.
Baca Juga: Isu Kerja Paksa Jadi Alasan Tarif Trump, Pakar Sebut Tak Relevan Amido akhirnya melarikan diri dan sempat menghabiskan dua malam di pegunungan. Sekarang dia berlindung di balai kota Kleinmond, bersama imigran lain dari Mozambik dan Malawi. Michael Markson, seorang pria berusia 31 tahun dari Malawi, mengatakan, ia menghabiskan satu malam tidur di pegunungan setelah melarikan diri dari pemukiman informal tempat ia tinggal selama sekitar satu tahun pada Sabtu (30/5/2026). "Pemilik rumah saya datang dan memberi tahu saya bahwa saya harus mengungsi karena jika mereka menemukan kami, mereka akan membunuh kami," kata Markson.
Baca Juga: Bank Sentral India Tahan Suku Bunga di Level 5,25%, Saat Rupee Melemah Keesokan harinya, salah satu temannya menelepon bosnya, yang membawakan mereka makanan saat mereka bersembunyi di hutan. Markson mengatakan bahwa ia cukup dekat untuk melihat kerumunan besar pengunjuk rasa di kota, beberapa di antaranya membawa pisau dan tongkat. Sekarang Markson berharap bisa pulang ke Malawi. "Di negara kami ekonomi tidak baik, tetapilebih baik daripada tinggal di komunitas di mana hidup Anda terancam," kata dia. Namun Markson tidak memiliki dana untuk itu. Gelombang anti imigran ini terjadi di provinsi Tanjung Barat, Afrika Selatan, terutama di kota-kota pesisir. Mozambik mengatakan lima warganya tewas dalam serangan xenofobia di kota Mossel Bay selama akhir pekan.
Baca Juga: Kebijakan Tarif Tambahan AS ke 60 Negara Dinilai Tak Atasi Masalah Kerja Paksa Serangan xenofobia adalah masalah yang berulang di Afrika Selatan, di mana imigran sering disalahkan atas kesulitan ekonomi, seperti tingginya pengangguran dan kejahatan. Terlepas dari tidak adanya bukti untuk klaim ini, politisi dari hampir semua partai cenderung mempercayai klaim ini demi mendapatkan suara populis menjelang pemilihan.
"Saat kita berupaya membangun masyarakat yang lebih aman dan lebih makmur, kita perlu mengatasi tantangan migrasi," kata Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa kepada parlemen, Selasa (2/6/2026). Ramaphosa juga mengutuk kekerasan xenofobia baru-baru ini.
Baca Juga: SpaceX Tetap Patok Harga IPO US$135 per Saham, Minat Investor Membludak Grant Cohen, anggota dewan wilayah Kleinmond, mengatakan, otoritas imigrasi memang mengunjungi kota itu dalam beberapa minggu terakhir untuk memeriksa restoran dan bisnis lain untuk mencari pekerja tanpa dokumen. Tapi Cohen memastikan, banyak imigran yang berlindung di balai kota berada di negara itu secara legal. "Saat ini ada anak-anak di sini yang seharusnya bersekolah, yang telah bersekolah di Kleinmond, tetapi sekarang ingin melarikan diri dari negara ini karena takut dan intimidasi," kata Cohen.