Gelombang Panas dan Kekeringan Bikin Produksi Anggur Prancis Terpuruk



KONTAN.CO.ID - PARIS. Produksi anggur Prancis diperkirakan menjadi salah satu yang terburuk dalam tiga dekade terakhir. Penurunan produksi tersebut terjadi akibat menyusutnya luas kebun anggur serta gelombang panas dan kekeringan parah yang merusak tanaman merambat dan buah anggur.

Kementerian Pertanian Prancis dalam estimasi awal yang dirilis Senin (7/9/2026) memperkirakan produksi anggur tahun ini mencapai 33,9 juta hektoliter. Angka tersebut turun 6% dibandingkan produksi tahun lalu dan 17% lebih rendah dari rata-rata produksi periode 2021-2025.

Sebagai gambaran, satu hektoliter setara dengan 100 liter atau sekitar 133 botol anggur standar.


Prancis merupakan produsen anggur terbesar kedua di dunia setelah Italia. Selain menjadi salah satu pusat produksi anggur global, Prancis juga secara tradisional tercatat sebagai eksportir anggur terbesar di dunia berdasarkan nilai.

Kementerian Pertanian Prancis menyebut kondisi pada musim semi sempat memberikan harapan terhadap prospek panen yang lebih baik. Namun, situasi berubah ketika kekeringan dan gelombang panas melanda selama musim panas.

Baca Juga: Tak Mau Tersandera Iran, UEA Bangun Jalur Perdagangan Alternatif

Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan pada tanaman merambat dan menekan hasil panen anggur.

"Kekeringan tanah semakin parah di seluruh wilayah, dan gelombang panas telah menyebabkan sengatan matahari lokal, tanaman terbakar, kerontokan daun, serta buah anggur layu, sehingga mengurangi volume panen," kata Kementerian Pertanian Prancis dalam sebuah pernyataan.

Panen Anggur Prancis Tertekan Tiga Tahun Beruntun

Jika perkiraan tersebut terealisasi, Prancis akan menghadapi tahun ketiga berturut-turut dengan produksi anggur yang lemah. Produksi pada 2024 dan 2025 juga tercatat rendah.

Penurunan produksi tidak hanya disebabkan oleh cuaca ekstrem. Luas lahan produksi anggur Prancis juga terus menyusut.

Kementerian Pertanian Prancis memperkirakan luas area produksi anggur turun 2,5% pada tahun ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, kelebihan pasokan di tengah penurunan konsumsi anggur mendorong para produsen mencabut sebagian tanaman anggur mereka. Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kapasitas produksi dengan kondisi permintaan pasar.

Dampaknya terlihat berbeda-beda di sejumlah kawasan produksi utama Prancis.

Baca Juga: Korea Utara-Rusia Resmikan Jembatan Darat Pertama, Hubungan Makin Erat

Produksi Champagne diperkirakan anjlok hingga separuh dibandingkan 2025. Sementara itu, produksi di kawasan Bourgogne-Beaujolais diproyeksikan turun sekitar sepertiga.

Penurunan juga diperkirakan terjadi di Val de Loire dan Charentes, masing-masing sebesar 12% dan 6%.

Produksi Languedoc-Roussillon dan Bordeaux Diproyeksikan Pulih

Di tengah tekanan produksi secara nasional, sejumlah wilayah diperkirakan mencatat perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Languedoc-Roussillon, yang merupakan cekungan produksi anggur terbesar di Prancis, diperkirakan mencatat kenaikan produksi sebesar 5% dibandingkan panen 2025 yang lemah.

Peningkatan tersebut didorong oleh hasil panen yang lebih baik. Meski demikian, tingkat produksi di wilayah tersebut masih berada di bawah rata-rata.

Sementara itu, produksi Bordeaux diperkirakan meningkat 10% dibandingkan 2025. Hujan yang turun pada akhir Agustus membantu mengurangi dampak tekanan kekeringan terhadap tanaman.

Baca Juga: Huawei Luncurkan Mate XT2, Perkuat Dominasi Ponsel Lipat di China

Kendati demikian, produksi Bordeaux masih diperkirakan berada jauh di bawah rata-rata produksi dalam lima tahun terakhir.

Gelombang Panas Tekan Sektor Pertanian Prancis

Dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan industri anggur. Sebagian besar produsen pertanian Prancis juga terdampak parah oleh gelombang panas yang memecahkan rekor pada musim panas tahun ini.

Gelombang panas tersebut merusak berbagai tanaman pertanian, padang penggembalaan, hingga mengurangi ketersediaan air.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah Prancis mengambil langkah darurat untuk membantu sektor pertanian.

Pada Jumat (4/9), Prancis mengumumkan paket bantuan darurat bagi petani dengan nilai lebih dari €1 miliar, atau sekitar US$1,16 miliar.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu petani menghadapi kerugian akibat kondisi cuaca ekstrem sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim.

Bagi industri anggur, penurunan produksi Prancis berpotensi memengaruhi pasokan global, terutama karena negara tersebut merupakan salah satu produsen sekaligus eksportir anggur utama dunia.