KONTAN.CO.ID - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada akhir Juni 2026 menyebabkan sedikitnya 3.700 kematian berlebih (
excess deaths) di Prancis, Belgia, dan Belanda. Otoritas kesehatan di ketiga negara memperingatkan angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi terus bertambah.
Baca Juga: Khamenei Dimakamkan, Iran Siapkan Prosesi Akbar Mengutip
Reuters, gelombang panas yang berlangsung sekitar 20-28 Juni 2026 itu disebut para ahli sebagai salah satu yang terparah yang pernah terjadi di Eropa. Suhu yang melonjak tidak hanya mengganggu pembangkit listrik dan merusak infrastruktur, tetapi juga membebani sistem layanan kesehatan di berbagai negara. Para ilmuwan menilai cuaca ekstrem tersebut hampir pasti dipicu oleh perubahan iklim. Di Prancis, Menteri Kesehatan Stephanie Rist mengatakan, sebanyak 2.025 kematian berlebih tercatat selama periode gelombang panas, dengan peningkatan paling signifikan terjadi pada kelompok usia di atas 45 tahun.
Baca Juga: Pemakaman Khamenei Digelar Sepekan, Iran Berupaya Yakinkan Dunia Rezim Tetap Kuat Otoritas kesehatan masyarakat Prancis melaporkan jumlah kematian yang terjadi di rumah meningkat 91% pada periode 22-28 Juni dibandingkan pekan sebelumnya. Kematian di panti jompo dan fasilitas kesehatan juga mengalami peningkatan. "Mortalitas kemungkinan akan lebih tinggi dibandingkan angka awal yang telah dilaporkan," demikian pernyataan otoritas kesehatan Prancis. Sementara itu, Belgia melaporkan sekitar 1.200 kematian berlebih selama periode 18-29 Juni. Kementerian Kesehatan Belgia menyebut, sekitar 530 korban meninggal berasal dari kelompok usia 85 tahun ke atas, sedangkan sekitar 180 kematian terjadi pada penduduk berusia di bawah 65 tahun. "Kematian berlebih dalam jumlah seperti ini saat gelombang panas belum pernah terjadi sebelumnya di negara kami," kata Kementerian Kesehatan Belgia.
Baca Juga: Meski Ada Tekanan Tarif Trump, Perdagangan Uni Eropa-AS Malah Capai Rekor Di Belanda, pemerintah mencatat sekitar 480 kematian berlebih akibat cuaca panas, yang sebagian besar dialami penduduk berusia di atas 80 tahun. Gelombang panas kali ini kembali menyoroti meningkatnya risiko kesehatan akibat perubahan iklim. Para ahli menilai kelompok lanjut usia, penderita penyakit kronis, serta masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan menjadi kelompok paling rentan ketika suhu ekstrem melanda dalam waktu yang lama.