Gencatan Senjata AS-Iran Segera Diumumkan, Perdamaian Permanen Masih Dinegosiasikan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Detail kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah mulai terungkap pada Selasa (16/6/2026).

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perjanjian tersebut akan memastikan Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir, sementara seorang pejabat AS menyebut kesepakatan itu juga memungkinkan Teheran kembali menjual minyak segera setelah ditandatangani.

Nota kesepahaman (memorandum of understanding) yang ditandatangani pekan ini, namun belum dipublikasikan secara resmi, memperpanjang gencatan senjata rapuh yang diumumkan pada April lalu selama 60 hari tambahan. Perpanjangan tersebut dimaksudkan untuk memberi waktu bagi kedua pihak yang berkonflik guna merundingkan perdamaian permanen.


Dalam kesepakatan tersebut, Amerika Serikat akan mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai imbalannya, Iran akan memulihkan jalur pelayaran kapal tanker minyak dan lalu lintas maritim lainnya melalui Selat Hormuz, yang secara efektif diblokade sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari.

Trump mengatakan bahwa isi perjanjian secara tegas menyatakan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan teks lengkapnya akan dipublikasikan dalam beberapa hari mendatang melalui forum resmi.

Baca Juga: Binance Terancam Kehilangan Izin di Uni Eropa Mulai Juli 2026

Selama ini Iran berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak berniat mengembangkan senjata nuklir dan menyatakan program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan damai.

Sejumlah Target Utama Belum Tercapai

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai Trump belum berhasil mencapai beberapa tujuan utama yang sebelumnya dijadikan alasan menyerang Iran. Pemerintahan teokratis Iran masih tetap berkuasa, program rudal balistik negara tersebut belum dibongkar, dan dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata anti-Israel seperti Hezbollah juga belum dihentikan.

Kesepakatan tersebut juga berpotensi memicu kritik dari internal Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang. Di sisi lain, para pemimpin Iran juga menghadapi risiko munculnya kembali protes domestik apabila gagal memperbaiki kondisi ekonomi setelah perang yang menghancurkan.

Israel tidak terlibat langsung dalam perundingan dan mengambil jarak dari gencatan senjata April maupun kesepakatan terbaru AS-Iran. Kondisi ini memunculkan ketidakpastian mengenai keberlangsungan gencatan senjata tersebut.

Perang yang berlangsung telah berdampak luas di kawasan Timur Tengah dan menewaskan lebih dari 7.000 orang, sebagian besar berada di Iran dan Lebanon setelah Israel melancarkan invasi ke Lebanon pada Maret menyusul keterlibatan Hezbollah dalam konflik.

Perbedaan Sikap soal Israel dan Lebanon

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa kesepakatan tersebut juga mencakup Israel dan Lebanon. Pernyataan ini bertolak belakang dengan sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sehari sebelumnya menegaskan bahwa Israel tidak terikat oleh perjanjian tersebut dan tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon selatan.

Sementara itu, juru bicara Hezbollah kepada Reuters menyatakan kelompoknya meyakini Iran tidak akan menyetujui perdamaian permanen apabila pendudukan Israel belum diakhiri.

Komando militer Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, juga memperingatkan bahwa Israel akan menghadapi respons keras apabila tidak menghentikan serangan di Lebanon selatan.

Iran Kembali Diizinkan Menjual Minyak

Seorang pejabat senior AS mengatakan bahwa kesepakatan tersebut memungkinkan Iran segera kembali menjual minyak dan bahan bakar. Perjanjian juga mencakup layanan perbankan, transportasi, dan asuransi guna mempermudah aktivitas ekspor energi tersebut.

Menurut pejabat dari kedua negara, kesepakatan itu berpotensi memberikan manfaat ekonomi besar bagi Iran melalui pencabutan sanksi dan pembebasan aset-aset yang sebelumnya dibekukan.

Selain itu, terdapat rencana pembentukan dana rekonstruksi senilai US$300 miliar yang akan dibiayai negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS dan sempat menjadi sasaran serangan Iran selama perang, dengan syarat Iran mematuhi ketentuan lain dalam perjanjian.

Baca Juga: Dana US$ 300 Miliar untuk Iran Disiapkan, Lebih dari Separuh Sudah Terkumpul

Negosiasi Sulit Masih Menanti

Dalam 60 hari ke depan, negosiator kedua negara akan kembali membahas isu-isu krusial, termasuk masa depan program nuklir Iran. Pembicaraan tersebut sebenarnya telah berlangsung pada Februari sebelum terhenti akibat keputusan AS melancarkan perang.

Namun demikian, dua isu penting yang sebelumnya digunakan Trump dan Netanyahu sebagai pembenaran perang, yakni penghentian dukungan Iran terhadap kelompok milisi regional dan pembatasan program rudal balistik, tampaknya belum masuk dalam agenda pembahasan.

Trump bahkan secara terbuka mengkritik Netanyahu dan mengaku kecewa terhadap jalannya operasi militer Israel.

"Iran ingin menyelesaikan semuanya," kata Trump mengenai tahap negosiasi berikutnya dengan Iran.

Dalam bahasa Indonesia, pernyataan tersebut berarti: "Iran ingin menyelesaikan semuanya. Mereka harus kembali menjalankan aktivitas ekonomi, dan hubungan kini telah kembali normal, sehingga saya pikir prosesnya akan berlangsung cukup cepat."

Sebelumnya Trump juga menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai: "Tembok penghalang bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir."

Kongres AS Berpotensi Meninjau Kesepakatan

Berbicara dalam pertemuan G7 di Prancis, Trump mengatakan dirinya menyukai gagasan untuk menyerahkan kesepakatan dengan Iran kepada anggota Kongres AS guna ditinjau setelah sejumlah legislator Partai Republik mengeluhkan minimnya informasi yang mereka terima.

Trump juga menghadapi kritik karena melancarkan perang tanpa memperoleh persetujuan Kongres, sementara konflik tersebut dinilai tidak populer di kalangan masyarakat Amerika.

Harga Minyak Turun, Dunia Pelayaran Masih Waspada

Optimisme pasar terhadap tercapainya kesepakatan mendorong harga minyak dunia turun lebih dari 2% pada Selasa dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya harga minyak juga anjlok hampir 5% menyusul kabar mengenai perjanjian tersebut.

Baca Juga: Nikkei Cetak Rekor Lagi, Bursa Jepang Nyaris Tembus 70.000

Meski demikian, pelaku industri memperkirakan produksi minyak dan gas di Timur Tengah masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya.

Kedua pihak menyatakan bahwa Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia, akan kembali dibuka mulai Jumat. Namun sejumlah perusahaan pelayaran memilih menunggu hingga situasi keamanan benar-benar stabil.

Televisi pemerintah Iran pada Selasa melaporkan bahwa proses pencabutan blokade maritim telah dimulai, meskipun seluruh kapal masih diwajibkan berkoordinasi dengan Garda Revolusi Iran.

Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan Selat Hormuz akan dibuka tanpa pungutan biaya selama 60 hari dan berharap ketentuan tersebut menjadi bagian dari perjanjian permanen. Iran sendiri mengindikasikan tetap akan mempertahankan pengelolaan jalur strategis tersebut bersama Oman.