KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran berada dalam ancaman serius setelah Washington menyita kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade laut. Teheran pun bersumpah akan membalas dan untuk sementara menolak ikut serta dalam perundingan damai baru. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa Washington tidak menunjukkan keseriusan dalam proses diplomatik. Menurutnya, Iran tidak akan mengubah tuntutan yang telah disampaikan sebelumnya dan tidak percaya pada tenggat waktu maupun ultimatum dalam menjaga kepentingan nasional. Pemerintah AS sebelumnya berharap dapat memulai kembali negosiasi di Pakistan sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir. Namun, Iran menilai Washington masih memaksakan sejumlah tuntutan yang dianggap tidak realistis.
Blokade Pelabuhan Jadi Penghalang Negosiasi
Sumber senior Iran mengatakan bahwa kelanjutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran merusak peluang tercapainya perundingan damai. Iran juga menegaskan bahwa kemampuan pertahanannya, termasuk program rudal, tidak akan menjadi bahan negosiasi. Sumber keamanan Pakistan menyebut mediator utama Pakistan, Asim Munir, telah memberi tahu Presiden AS Donald Trump bahwa blokade tersebut menjadi hambatan bagi pembicaraan damai. Trump dikabarkan menjawab bahwa ia akan mempertimbangkan saran tersebut.
Marinir AS Sita Kapal Iran
AS tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran sempat mencabut lalu memberlakukan kembali pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Ketegangan terbaru membuat harga minyak melonjak lebih dari 6% dan mengguncang pasar saham global karena investor khawatir gencatan senjata akan runtuh. Militer AS menyatakan telah menembaki kapal kargo berbendera Iran yang menuju pelabuhan Bandar Abbas pada Minggu, setelah kebuntuan selama enam jam. Serangan itu melumpuhkan mesin kapal, sebelum pasukan marinir turun dari helikopter untuk mengambil alih kapal tersebut. Iran menyebut kapal itu berangkat dari China dan menuduh AS melakukan “pembajakan bersenjata”. Militer Iran menyatakan siap menghadapi pasukan AS atas apa yang disebut sebagai agresi terang-terangan, meskipun terhambat oleh keberadaan keluarga awak kapal di atas kapal tersebut. China juga menyampaikan keprihatinan atas intersepsi paksa itu dan meminta semua pihak mematuhi kesepakatan gencatan senjata secara bertanggung jawab.
Iran Tolak Perundingan Baru
Teheran menolak ikut dalam pembicaraan damai baru untuk sementara waktu. Iran menilai blokade yang masih berlangsung, retorika ancaman, dan perubahan posisi Washington menjadi alasan utama penolakan tersebut. Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammadreza Aref, menyatakan bahwa tidak mungkin membatasi ekspor minyak Iran sambil mengharapkan keamanan jalur energi bagi negara lain. “Pilihannya jelas: pasar minyak bebas bagi semua pihak, atau risiko biaya besar bagi semua,” tulisnya di media sosial. Sebelumnya, Trump memperingatkan bahwa AS akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran jika Teheran menolak syarat yang diajukan Washington. Iran juga telah memperingatkan akan menyerang pembangkit listrik dan instalasi desalinasi di negara-negara Teluk Arab jika infrastruktur sipil mereka diserang.
Persiapan Negosiasi yang Belum Pasti
Trump mengatakan para utusannya akan tiba di Islamabad pada Senin malam, sehari sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir. Gedung Putih sempat menyatakan delegasi AS akan dipimpin Wakil Presiden JD Vance bersama utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Namun, Trump kemudian mengatakan bahwa JD Vance tidak akan hadir dalam pembicaraan tersebut.
Pakistan, yang menjadi mediator utama, tetap mempersiapkan perundingan. Sekitar 20.000 personel polisi, paramiliter, dan tentara telah dikerahkan di Islamabad untuk mengamankan ibu kota. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan kedua pihak telah membuat kemajuan, tetapi masih terdapat perbedaan besar terkait isu nuklir dan Selat Hormuz.
Krisis Energi Global Makin Dalam
Kini memasuki pekan kedelapan, perang telah menciptakan guncangan pasokan energi global paling parah dalam sejarah modern. Penutupan de facto Selat Hormuz terus mendorong lonjakan harga minyak dunia. Konflik yang dimulai pada 28 Februari itu juga telah menewaskan ribuan orang akibat serangan AS-Israel terhadap Iran dan invasi Israel ke Lebanon. Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara Arab di sekitar yang menjadi basis militer AS.