KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/DUBAI. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling serang pasca Presiden AS Donald Trump menyatakan berakhirnya gencatan senjata. Minggu (12/7/2026), pasukan AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal dan drone berat dengan Teheran menargetkan fasilitas militer AS di negara-negara di seberang Teluk. Iran juga kembali menutup Selat Hormuz yang vital. Serangkaian serangan antara AS dan Iran selama beberapa hari terakhir menyebabkan Presiden Donald Trump menyatakan berakhirnya gencatan senjata yang dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran yang dimulai AS dan Israel pada 28 Februari. Meski begitu, Trump tetap membuka pintu untuk negosiasi lanjutan.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Sumpah Balas Kematian Ayahnya, Ketegangan Iran-AS Memanas Lagi Eskalasi tersebut menyusul beberapa serangan terhadap kapal-kapal komersial di daerah tersebut. Iran mengatakan telah menutup Selat Hormuz setelah melepaskan tembakan peringatan yang mengenai sebuah kapal yang berlayar di jalur yang tidak disetujui. Iran menyatakan bahwa mereka telah melumpuhkan kapal kedua. "Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga berakhirnya campur tangan AS di wilayah ini," kata Garda Revolusi Iran seperti dilansir
Reuters. Namun, Komando Pusat AS mengatakan kapal-kapal komersial terus melintas melalui jalur air yang sebelum perang mengangkut seperlima pengiriman minyak dan LNG dunia.
Iran Serang Fasilitas AS di Negara Teluk
Komando Pusat mengatakan pasukan AS menghantam 140 target militer Iran pada hari Sabtu, dari lebih dari 300 target selama tiga malam serangan "untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat." Media pemerintah Iran melaporkan ledakan di sejumlah kota pelabuhan. Sebagai tanggapan, Garda Revolusi Iran mengatakan mereka telah menghancurkan pusat komando dan kendali serta hanggar drone di Yordania, sekutu AS, menargetkan situs radar AS di Kuwait, menyerang platform pendukung dan pengisian bahan bakar kapal induk AS di Oman, dan menghancurkan pusat perawatan jet dan fasilitas komando di Qatar. Pemerintah Qatar menyebutkan, tiga orang, termasuk seorang anak, terluka akibat pecahan peluru yang berjatuhan dari serangan tersebut.
Baca Juga: AS Desak Iran Jamin Keamanan Selat Hormuz, Pembicaraan Digelar di Oman Uni Emirat Arab mengatakan sistem pertahanan mereka mencegat rudal dan drone dari Iran, sementara sirene peringatan berbunyi di Bahrain dan ledakan terdengar di Doha. Serangan Teheran menandai peningkatan tajam dalam kecepatan dan target, setelah sebelumnya memperingatkan bahwa setiap pembalasan atas insiden kapal kontainer akan ditanggapi dengan "respons yang keras." Dalam beberapa minggu terakhir, Iran telah menyerang Kuwait dan Bahrain sambil menghindari Qatar sejak awal April dan UEA sejak awal Mei. Serangan hari Minggu terhadap Qatar menargetkan negara yang upaya mediasinya telah menjadi pusat upaya untuk menengahi gencatan senjata antara AS dan Iran. Qatar sebelumnya mengatakan tidak akan bertindak sebagai mediator selama mereka diserang. Perang telah menggoyahkan stabilitas Teluk, sementara blokade efektif Iran terhadap selat tersebut telah menyebabkan harga energi melonjak, memicu inflasi global. Harga yang lebih tinggi, terutama untuk bensin, merupakan isu politik sensitif bagi Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang.
Iran Tuding Langgar Gencatan Senjata
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuduh Amerika Serikat melanggar perjanjian gencatan senjata. "Hanya ada kepatuhan timbal balik," tulisnya di X pada hari Jumat. Pada hari Minggu, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf memposting di X: "Era kesepakatan sepihak telah BERAKHIR. Kami sudah memberi tahu Anda: tepati janjimu atau tanggung akibatnya. Kenyataan telah tiba." Amerika Serikat mencabut izin penjualan minyak mentah Iran pada hari Selasa setelah kapal tanker komersial Qatar dan Saudi diserang awal pekan ini, yang memicu serangkaian serangan balasan antara AS dan Iran.
Baca Juga: Angkatan Laut Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Meskipun Iran belum mengaku bertanggung jawab atas serangan kapal sebelumnya, para analis mengatakan Teheran menggunakan tindakan tersebut untuk mendapatkan pengaruh dalam negosiasi.
Araqchi dan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi bertemu di Oman untuk bertukar "pandangan tentang mekanisme yang tepat untuk jalur aman kapal melalui Selat Hormuz," menurut pernyataan dari Iran. Kantor berita negara Oman mengatakan para negosiator akan melanjutkan pembicaraan "pada tingkat teknis dan politik." Sebuah pernyataan tertulis dari pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, pada hari Sabtu mengancam akan membalas dendam atas kematian pendahulunya dan ayahnya, yang tewas dalam serangan awal perang. "Kami berjanji untuk membalaskan darah pemimpin yang gugur dan semua martir," demikian isi pesan tersebut. Pemimpin baru Iran belum terlihat di depan umum sejak perang dimulai.