KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Israel dan Lebanon sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu dalam pertemuan di Gedung Putih yang dimediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Langkah ini dilakukan di tengah upaya meredakan konflik regional yang lebih luas dengan Iran. Pertempuran antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon menjadi salah satu hambatan utama dalam penyelesaian konflik kawasan yang telah berlangsung selama delapan pekan. Selain itu, isu program nuklir Iran serta penguasaan Selat Hormuz juga menjadi titik krusial dalam negosiasi. Trump menegaskan bahwa dirinya tidak terburu-buru mencapai kesepakatan damai. Ia menginginkan perjanjian yang bersifat jangka panjang dan berkelanjutan. Di saat yang sama, Trump mengklaim Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam ketegangan militer di Selat Hormuz.
Ketegangan di Selat Hormuz dan Dampak Ekonomi
Meski gencatan senjata diperpanjang, situasi di Selat Hormuz masih belum stabil. Jalur pelayaran strategis tersebut praktis masih terblokir, terutama setelah Iran menyita dua kapal kargo besar. Insiden ini menunjukkan tantangan besar yang dihadapi AS dalam menjaga kendali atas jalur distribusi energi global. Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz berpotensi menekan pasar minyak dunia dan memperburuk kondisi ekonomi global.
Baca Juga: Donald Trump Dijadwalkan Pidato di Konferensi Kripto Palm Beach Florida, Picu Sorotan Pemerintah Filipina menyatakan terdapat 15 warganya di atas kapal yang disita, dan diyakini dalam kondisi aman. Sementara itu, harga minyak kembali naik seiring ketidakpastian yang terus berlanjut di kawasan tersebut.
Taktik Baru Iran dan Respons AS
Iran menunjukkan perubahan taktik dengan menggunakan armada kapal kecil berkecepatan tinggi untuk merebut kapal-kapal dagang. Strategi ini dinilai sebagai respons atas upaya AS yang sebelumnya mencegat kapal tanker terkait Iran. Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menolak klaim Trump bahwa kepemimpinan Iran sedang dalam kekacauan. Ia menyebut tuduhan tersebut sebagai bagian dari operasi propaganda musuh. "Persatuan akan menjadi lebih kuat dan kokoh, sementara musuh akan semakin lemah dan terhina," ujarnya.
Retaknya Hubungan AS dan Sekutu
Konflik berkepanjangan ini juga memperdalam ketegangan antara AS dan sekutunya di NATO. Trump berulang kali mengkritik negara-negara anggota yang dinilai tidak memberikan dukungan memadai terhadap operasi militer AS. Washington bahkan mempertimbangkan langkah-langkah terhadap negara yang dianggap tidak kooperatif, termasuk Spanyol. Trump juga memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu yang jelas, guna memberi ruang bagi negosiasi lanjutan yang hingga kini belum dijadwalkan.
Konflik Berlanjut di Lapangan
Meski ada perpanjangan gencatan senjata, pertempuran masih terjadi di Lebanon selatan. Militer Israel melaporkan serangan roket dan drone oleh Hezbollah terhadap pasukannya, serta serangan ke wilayah Israel utara.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Variatif Jumat (24/4), Minyak Naik di Tengah Kebuntuan AS-Iran Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan udara yang menewaskan tiga anggota Hezbollah dan menghancurkan infrastruktur militer kelompok tersebut.
Israel juga terus mendorong pemerintah Lebanon untuk melucuti Hezbollah, yang didirikan oleh Garda Revolusi Iran. Namun, kelompok tersebut tidak terlibat langsung dalam perundingan gencatan senjata di Washington.
Ancaman Eskalasi Baru
Sebelum kesepakatan di Gedung Putih, Israel memperingatkan kesiapan untuk melanjutkan serangan terhadap Iran, menunggu persetujuan dari AS. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bahkan menyatakan bahwa serangan lanjutan dapat menargetkan langsung pemimpin tertinggi Iran dan membawa negara tersebut kembali ke “zaman gelap”. Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa AS tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam konflik ini, meskipun mengklaim telah melemahkan Iran secara signifikan dengan kekuatan militer konvensional.