General Motors Lepas Kepemilikan Pabrik Baterai EV di Indiana



KONTAN.CO.ID – MICHIGAN. General Motors (GM) berencana melepas separuh kepemilikannya dalam proyek patungan (joint venture) pabrik baterai kendaraan listrik (EV) senilai US$ 3,5 miliar di Indiana, Amerika Serikat.

Dalam laporan Reuters (11/8), GM dikabarkan akan menjual kepemilikannya kepada Samsung SDI, mitra dalam proyek tersebut. Mengutip Bloomberg News, Samsung SDI juga akan mengambil alih proyek patungan serta menjadi pemilik fasilitas produksi baterai di New Carlisle, Indiana.

Pabrik tersebut dibangun di atas lahan seluas 680 acre atau sekitar 275 hektare. Proyek ini sebelumnya ditargetkan mulai memproduksi baterai secara massal pada 2027, dengan kapasitas awal sekitar 27 gigawatt hour (GWh) per tahun.


Rencana pelepasan kepemilikan ini mencerminkan perubahan strategi GM di tengah melemahnya permintaan kendaraan listrik di Amerika Serikat. Pembangunan fasilitas tersebut sebelumnya dilaporkan melambat karena permintaan EV yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Baca Juga: JPMorgan Pertahankan Ekspansi Bisnis di Asia Pasifik

Selain itu, GM bersama sejumlah produsen otomotif lainnya juga mengurangi produksi kendaraan listrik setelah berakhirnya kredit pajak federal AS senilai US$ 7.500 pada September tahun lalu. Produsen otomotif masih memproduksi dan menjual EV, tetapi menyesuaikan kapasitas pabrik dengan tingkat permintaan.

Proyek GM dan Samsung SDI pertama kali diumumkan sekitar dua tahun lalu. Kedua perusahaan saat itu menyiapkan investasi sekitar US$ 3,5 miliar untuk membangun fasilitas baterai dengan kapasitas awal 27 GWh per tahun. Samsung SDI menyebut kapasitas tersebut berpotensi ditingkatkan hingga 36 GWh.

Langkah GM tersebut menambah daftar penyesuaian strategi perusahaan di bisnis baterai EV. Pada Maret 2026, GM dan LG Energy Solution juga memutuskan mengubah fungsi fasilitas baterai EV di Tennessee menjadi pabrik baterai untuk sistem penyimpanan energi.

GM dan Samsung SDI belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut. Reuters juga belum dapat memverifikasi informasi mengenai rencana transaksi tersebut secara independen.

Baca Juga: Australia dan Vietnam Perkuat Kerja Sama Rantai Pasok