Genjot produksi, Vale Indonesia siapkan US$ 2 M



JAKARTA. PT Vale Indonesia. Tbk sudah memasang strategi demi menggenjot produksinya. Saat ini, produsen nikel ini sedang menyiapkan penambahan satu line smelter di Sulawesi Selatan, dan pembangunan pabrik pemurnian plus infrastruktur penunjang di Sulawesi Tengah.General Manager Media Communications Vale Indonesia, Teuku Mufizar Mahmud menuturkan, perseroan sudah menyiapkan dana US$ 2 miliar untuk rencana ekspansi itu. Line smelter itu sendiri terletak di Kabupaten Sorowako, Sulawesi Selatan. Dengan penambahan itu, maka Vale akan memiliki total lima line smelter. Sebagai catatan, sebelumnya, perusahaan sudah memiliki pabrik smelter plus empat line smelter di lokai tersebut.Selanjutnya, perusahaan berkode saham INCO ini juga berencana mendirikan satu pabrik pemurnian nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Kapasitas pabrik pemurnian itu sekitar 20.000 metrik ton per tahun. Namun, Mufizar belum bisa memastikan kapan pembagunan pabrik pemurnian dan line smelter bakal dimulai. Menurut dia, saat ini masih dalam tahap studi kelayakan. "Kami targetkan pembangunan akan makan waktu lima tahun. Sehingga pada 2017, pabrik dan line smelter sudah beroperasi," ujarnya, Selasa (31/7). Untuk persiapan pembanguna line smelter itu, Vale telah mulai menggarap infrastruktur jalan. Selain itu, Vale berencana menyiapkan fasilitas penunjang di sekitar pabrik, seperti jalan, sekolah, perkantoran dan perumahan. "Nantinya, jalan yang sedang dibangun itu akan menghubungkan antara lokasi smelter dengan pabrik pemurnian, sehingga terjamin kelancaran transportasinya," ungkap Mufizar. Dengan adanya tambahan satu line smelter dan satu pabrik pemurnian, Vale berharap produksi tahunan bisa meningkat dari sebanyak 73.000 metrik ton (MT), menjadi 120.000 MT.Untuk tahun ini, perusahaan masih memasang target produksi 73.000 MT. Target ini naik 9% dibanding realisasi produksi tahun lalu, sekitar 66.900 MT. Hingga kuartal kedua, Vale sudah menghasilkan 28.993 MT nikel. Rinciannya, produksi kuartal pertama sekitar 12.431 MT, dan kuartal II 16.562 MT.Menurut Mufizar, produksi di kuartal kedua ini lebih bagus ketimbang triwulan pertama, lantaran line smelter I dan line smelter II sudah beroperasi kembali sejak Mei tahun ini. Sekadar catatan, sejak November tahun lalu, kedua line smelter itu berhenti beroperasi karena dalam perbaikan. Laba jeblok 98%Performa Vale Indonesia dalam enam bulan pertama di tahun ini meredup. Pada semester I 2012, produsen nikel ini hanya mencatatkan penjualan US$ 425,38 juta, atau jeblok 40,5% dibanding pencapaian periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 715,38 juta. Penjualan turun lantaran produksi di paruh pertama tahun ini juga hanya sebanyak 28.993 metrik ton. Jumlah ini lebih rendah ketimbang realisasi produksi pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 35.100 metrik ton. Bukan hanya itu, fluktuasi harga nikel di pasar global terutama pada kuartal II tahun ini menyebabkan kinerja perusahaan lebih terpuruk. Harga jual rata-rata perseroan sepanjang paruh pertama 2012 tercatat turun 28% dibanding harga jual paruh pertama tahun lalu, yaitu sebesar US$ 20.052 per ton.Tak pelak, laba bersih perusahaan pun ikut anjlok. Pada semester I 2012, perusahaan hanya bisa mengantongi keuntungan senilai US$ 5,52 juta, atau anjlok hingga 98% dibaning periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 238,15 juta.Meski begitu, terkait produksi, Mufizar yakin, perusahaan masih bisa mencapai target tahun ini yang sebesar 73.000 metrik ton. "Sebab, dua line smelter kami yang semula berhenti berproduksi pada kuartal I, sudah kembali beroperasi sejak Mei tahun ini," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Dupla Kartini