Geopolitik Iran-AS Bikin Panas Pasar Saham, Transaksi Saham Berpotensi Melambat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. RHB Sekuritas Indonesia menilai ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat mendorong kenaikan risk premium di pasar global yang memicu volatilitas pasar saham, termasuk di Indonesia.

Analis RHB Sekuritas, Andrew Wijaya mengatakan situasi ini turut mempengaruhi kinerja perusahaan di industri sekuritas. "Bagi perusahaan sekuritas, dampaknya bisa bersifat dua arah," ujarnya pada Kontan, Selasa (10/3/2026).

Menurutnya, nilai perdagangan berpotensi melemah karena tekanan pasar dapat membuat sebagian investor menunda transaksi. Meski begitu, volatilitas juga dapat menjaga dinamika pasar karena sering memicu aktivitas trading jangka pendek.


Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,51% ke Rp 16.863 per Dolar AS pada Selasa (10/3/2026)

Sementara dari segi investor, sentimen global akan membuat mereka lebih selektif sehingga aktivitas perdagangan cenderung melemah dalam jangka pendek. Selain itu, mereka juga akan lebih berhati-hati dengan melakukan profit taking atau mengalihkan dana ke aset yang lebih aman seperti emas dan dolar AS.

Lebih lanjut, ia menuturkan perusahaan sekuritas umumnya akan fokus menjaga aktivitas transaksi sekaligus memperbesar basis investor.

Perusahaan cenderung akan melakukan penguatan platform digital trading, meningkatkan kualitas riset untuk mendukung keputusan investasi, dan mengembangkan layanan corporate access dan investment banking.

Selain itu, perusahaan juga akan melakukan diversifikasi sumber pendapatan, misalnya melalui underwriting, advisory, maupun layanan wealth management sehingga kinerja perusahaan tidak semata bergantung pada aktivitas transaksi saham.

Adapun rata-rata nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa waktu terakhir masih berada di kisaran Rp 10 triliun–13 trliun per hari.

Meski begitu, Andrew mencermati pergerakan pasar saham domestik masih akan dipengaruhi sejumlah faktor global, seperti perkembangan geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta dinamika harga komoditas.

Namun, prospek pasar saham Indonesia tetap positif secara fundamental. Hal ini ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil di kisaran 5%, inflasi yang terjaga, serta basis investor domestik yang makin kuat. 

Baca Juga: Laba dan Pendapatan Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) Naik Sepanjang 2025

"Meskipun volatilitas jangka pendek masih mungkin terjadi, pasar saham Indonesia dinilai berpotensi bergerak lebih konstruktif dalam jangka menengah seiring membaiknya sentimen global," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News