Geopolitik Memanas dan Politik AS Goyang, Harga Emas Berpotensi Melonjak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan geopolitik global yang sedang memanas, beserta turbulensi politik di Amerika Serikat (AS), diproyeksikan menjadi pendorong utama pergerakan harga emas dunia pada perdagangan sepekan ke depan.

Mengutip data Trading Economics per Jumat (18/9/2026), harga emas spot berada di level US$4.383,45 per ons troi atau naik 0,97% (42,06 poin) dalam sehari, mengikis penurunan bulanan menjadi minus 2,97% meski secara Year to Date (YtD) masih menguat 1,47% dan tumbuh 18,96% secara tahunan (Year on Year/YoY).   

Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa fluktuasi tajam pada harga emas, indeks dolar AS, hingga minyak mentah pekan depan akan dipicu oleh gabungan eskalasi geopolitik, dinamika pemilu sela AS pada November, serta arah kebijakan bank sentral AS (The Fed).


Dari sisi geopolitik, konflik di Timur Tengah berpindah dari Selat Hormuz ke Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, menyusul aksi kelompok Houthi yang merangsek mendekati wilayah Arab Saudi hingga meluncurkan serangan rudal dan drone ke ibu kota Riyadh.

Baca Juga: Harga Emas Dibayangi Sinyal Bearish Pekan Depan, Cermati Level Resistance Ini

"Kondisi ini membuat Arab Saudi meminta bantuan Turki dan Pakistan. Pertempuran tersebut mendorong harga minyak mentah naik, di mana untuk pekan depan kemungkinan ditransaksikan di kisaran US$90,30 hingga US$102,50 per barel, bahkan berpotensi melampaui level tersebut," jelas Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (20/9/2026).

Selain di Timur Tengah, ketegangan antara AS dan Iran di Selat Hormuz juga masih membara akibat pemblokiran militer AS di Laut Oman. Sementara itu, di Eropa Timur, serangan sporadis Rusia terhadap kilang-kilang minyak Ukraina terus berlanjut.

Di dalam negeri AS, suhu politik memanas menjelang pemilu sela November akibat persaingan ketat Partai Demokrat dan Partai Republik.

Situasi ini memicu kekhawatiran dan mendorong pemindahan cadangan emas dari AS ke Eropa, khususnya London.

Ibrahim menambahkan, harga gasolin di AS yang melonjak ke US$6,5 per galon turut mengindikasikan tekanan inflasi yang masih tinggi.

Di sisi kebijakan moneter, meski 16 dari 18 deputi The Fed memilih menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan membuka peluang kenaikan 25 bps lagi hingga Desember, pasar bereaksi lain.

Baca Juga: Bunga The Fed Naik 25 Bps, Begini Prospek dan Proyeksi Harga Emas Dunia

Sikap Donald Trump yang mengintervensi Kevin Warsh agar memangkas suku bunga hingga di atas 100 bps justru direspons positif oleh pasar emas.

Intervensi politik terhadap kebijakan moneter ini memicu kegelisahan pasar sehingga mendorong aksi beli logam mulia.

"Gonjang-ganjing geopolitik, politik AS, dan intervensi terhadap bank sentral berpotensi membawa nilai tukar rupiah kembali ke atas Rp 18.000 per dolar AS. Jika rupiah melemah ke level tersebut, sangat wajar jika harga emas Antam/Logam Mulia domestik melaju menuju Rp 2.820.000 per gram," papar Ibrahim.

Untuk perdagangan pekan depan, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia yang pekan lalu ditutup di level US$4.378 per ons troi akan bergerak menguji area support di kisaran US$4.333 hingga US$4.250 per ons troi, dengan area resistance di rentang US$4.429 hingga US$4.533 per ons troi.

Sementara untuk emas Antam/Logam Mulia yang ditutup pada Rp 2.764.000 per gram, diperkirakan akan diperdagangkan pada rentang support Rp 2.744.000 hingga Rp 2.620.000 per gram dan resistance Rp 2.784.000 hingga Rp 2.820.000 per gram.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini, Minggu (20/9): Per Gram Tetap Rp 2.6380.000

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News