KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan pasar keuangan global pada pekan terakhir April 2026 diperkirakan masih dibayangi ketidakpastian tinggi, seiring memanasnya geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) serta fluktuasi harga komoditas. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan indeks dolar AS akan bergerak di kisaran 96,60 dengan level resistance di 102,50 pada pekan depan. Di sisi lain, harga emas masih menunjukkan volatilitas tinggi. Pada Jumat (24/4), harga emas dunia ditutup di level US$ 4.709 per ons troi. Sementara itu, harga emas batangan bersertifikat Antam pada Minggu (26/4/2026) tercatat sebesar Rp 2.825.000 per gram.
Baca Juga: Kinerja Tumbuh Solid, IRRA Masih Layak Dikoleksi? Ini Kata Analis Ibrahim memperkirakan, jika harga emas terkoreksi, level support pertama berada di US$ 4.651 per ons troi dengan harga emas domestik di kisaran Rp 2.800.000 per gram. Support berikutnya diproyeksikan berada di US$ 4.520 per ons troi dengan harga Rp 2.790.000 per gram. Sebaliknya, jika harga emas menguat, level resistance pertama diperkirakan di US$ 4.779 per ons troi dengan harga emas Antam di Rp 2.865.000 per gram. Adapun resistance lanjutan diperkirakan berada di kisaran yang lebih tinggi seiring meningkatnya ketidakpastian global. Dari sisi eksternal, ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu pendorong utama volatilitas pasar. Konflik yang melibatkan AS dan Iran meningkatkan risiko gangguan distribusi energi, terutama di jalur strategis Selat Hormuz. Situasi semakin kompleks meskipun terdapat wacana pertemuan negosiasi antara kedua negara. Pernyataan keras terkait kemungkinan aksi militer oleh kedua negara serta insiden penangkapan kapal tanker Iran turut memperbesar ketidakpastian di pasar global. Jika eskalasi berlanjut kondisi ini berpotensi mengganggu rantai pasok minyak dunia, mendorong kenaikan harga energi, dan meningkatkan tekanan inflasi global.
Baca Juga: Ultrajaya (ULTJ) Bagi Dividen Tunai Rp 1,35 Triliun, Cek Jadwalnya Dari sisi kebijakan, pasar juga mencermati arah bank sentral AS di tengah dinamika politik domestik. Perubahan komposisi pejabat strategis dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan luar negeri maupun moneter. Jika kebijakan moneter AS cenderung lebih ketat di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi, kondisi ini berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus menahan laju kenaikan harga emas.
Namun, dari sisi permintaan, tren akumulasi emas oleh negara-negara BRICS menjadi faktor penopang. Langkah ini dilakukan sebagai upaya diversifikasi cadangan devisa di tengah ketidakpastian global yang diperkirakan berlangsung lama. Sehingga pada saat harga logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan terbaik bagi negara-negara Bank Sentral anggota BRIS untuk memupuk kekayaannya dengan membeli logam mulia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News