KONTAN.CO.ID - CEO HSBC Holdings, Georges Elhedery, mengambil langkah besar sejak mengambil alih posisi CEO 15 bulan lalu. Ia menemukan bank terbesar di Eropa itu terjebak dalam struktur manajemen yang kompleks dan berlapis. Elhedery hampir memangkas separuh ukuran komite operasional, menghapus peran
co-management yang menurutnya memungkinkan para bos menghindari tanggung jawab atas keputusan mereka. Tidak hanya itu, Elhedery mendorong penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) demi efisiensi.
Baca Juga: Mengenal Tom Secunda, Pendiri Bloomberg yang Jarang Disorot Publik Restrukturisasi Masif
Langkah pertama Elhedery adalah memangkas hampir separuh jumlah komite operasional. Sistem
co-management dihapus, dan ia mendorong penerapan akuntabilitas tunggal. Megutip
The Straits Time, Elhedery melihat bahwa 60% pendapatan HSBC kini dihasilkan di bawah struktur ini. Hal itu merupakan lompatan signifikan dari kondisi sebelumnya yang ada di fase 0 persen akuntabilitas tunggal. Restrukturisasi ini disertai PHK dalam jumlah besar, penutupan sejumlah unit bisnis, hingga merger internal. Elhedery menegaskan bahwa perjalanannya belum selesai.
Baca Juga: Greg Abel Ambil Alih Berkshire: Inilah Para Pemimpin Baru yang Ditunjuk Menjadikan AI Sebagai Pilar Transformasi
Dalam agenda modernisasi bank HSBC, Elhedery menempatkan AI sebagai elemen kunci misi transformasinya. Saat ini, lebih dari 170.000 karyawan HSBC telah dibekali alat berbasis AI untuk menulis, meninjau dokumen, mengelola kekayaan, mendeteksi penipuan, hingga melakukan pemeriksaan KYC. "Penggunaan AI bukan opsional. Karyawan yang cepat beradaptasi akan menjadi katalis bagi percepatan adopsi di seluruh organisasi," kata Elhedery. Dengan lebih dari 100 contoh kasus yang telah dikembangkan dan separuhnya sudah aktif di produksi, AI diposisikan sebagai fondasi operasional HSBC di masa depan.
Baca Juga: Pendiri DeepSeek Liang Wenfeng Raup Hampir 40 Juta Yuan dari IPO Moore Threads Tetap Belajar Secara Mandiri
Meski mulai sepenuhnya percaya kepada AI, Elhedery tetap meningkatkan kualitas dirinya secara mandiri. Setelah cuti enam bulan, ia memutuskan untuk belajar bahasa Mandarin secara intensif, menjadikannya CEO pertama HSBC yang menguasai bahasa tersebut. Bagi Elhedery, bahasa adalah pintu untuk memahami cara berpikir dan bernegosiasi dalam budaya China, wilayah paling penting dalam operasi HSBC. Sebagai poliglot yang menguasai banyak bahasa, ia berharap langkahnya menginspirasi karyawan lain untuk mengambil cuti demi pengembangan profesional mereka. Dirinya percaya bahwa pemahaman lintas budaya sama pentingnya dengan inovasi teknologi dalam mempersiapkan HSBC menghadapi masa depan global.
Baca Juga: CEO Ford Jim Farley Akui Keunggulan Xiaomi SU7: Ini Apple dari China Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News