KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Banyaknya peminat kopi di Tanah Air mendorong gerai kopi (
coffee shop) yang terus ekspansif. Lantas, apakah persaingan bisnis kopi saat ini dinilai masih sehat atau justru mulai jenuh? Database global Point of Interest (POI) mencatat, hingga November 2025, Indonesia memiliki gerai kopi terbanyak di dunia yakni sebanyak 461.991 gerai. Sekretaris Jenderal Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Gusti Laksamana menyoroti, data POI tersebut diolah dari OpenStreetMap, sehingga semua titik yang melakukan niaga kopi turut masuk perhitungan.
“
Jadi dari 461.991 tersebut bisa jadi ada yang aktif ataupun tidak aktif dan bukan semua bentuk cafe, tapi juga ada warung kopi, toko kopi, dan lain sebagainya yang menjual kopi,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (12/1/2026). Baca Juga: Kuota Impor Daging Swasta Dipangkas Jadi 30.000 Ton pada 2026, Ini Respon APPDI Terkait persaingan, Gusti melihat kondisi bisnis kopi belum sepenuhnya jenuh. Sebab, sebaran
coffee shop juga dinilai belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Menurutnya, masih banyak gerai yang terkonsentrasi di wilayah yang padat penduduk. Namun, dilihat dari besarnya jumlah yang terekam oleh POI, SCAI menilai hal ini menunjukkan tingginya antusiasme pelaku industri untuk berniaga kopi. Secara makro, pertumbuhan jumlah
coffee shop di Indonesia juga disebut masih beriringan dengan meningkatnya konsumsi kopi per kapita. “Khususnya tahun 2025, Indonesia telah memasuki lebih dari 1 kilogram per kapita per tahun, sebuah capaian luar biasa dalam satu dekade terakhir,” terang Gusti. Kendati demikian, SCAI mengungkap tantangan yang masih membayangi pelaku usaha kopi ialah harga kopi yang semakin tinggi akibat turunnya kapasitas produksi. Hal ini, lanjutnya, dipicu perubahan iklim global di tengah naiknya permintaan kopi di Indonesia. Maka itu, Gusti bilang, tantangan ini membuat para pelaku usaha kopi harus berpikir keras untuk menyesuaikan harga jual atau diversifikasi cara jual seefektif mungkin. SCAI memandang,
walaupun di tengah pertumbuhan gerai yang masif, daya saing bisnis tidak dibangun lewat perang harga. Alih-alih, memupuk daya saing dapat dilakukan melalui diferensiasi yang jelas, kualitas yang konsisten, edukasi konsumen, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta keterlibatan aktif dalam ekosistem kopi Indonesia. “Dengan begitu, langkah ekspansi pada tahun 2026 ini pun masih realistis jika didukung juga dengan strategi fokus pada pengalaman pelanggan dan adaptasi terhadap permintaan lokal,” ujar Gusti. Menurutnya, ekspansi bisnis kopi masih realistis dilakukan di wilayah-wilayah yang potensial, seperti di kota-kota
tier 2–3 dan kawasan urban yang sedang berkembang. Pelaku usaha, kata Gusti, juga dapat mengoptimalkan format baru seperti coffee grab & go dan adanya ruang komunitas. “Ekspansi tanpa strategi akan sulit bertahan di tengah pasar yang makin kompetitif,” pungkasnya.
Baca Juga: Penerbangan Bandara Soetta Terganggu, 109 Pesawat Delay Akibat Cuaca Buruk Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News