Geser dari CPO ke Produk Turunan, PalmCo Menggarap Hilirisasi Bernilai Tinggi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Usai libur Lebaran, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo mempercepat langkah hilirisasi industri kelapa sawit nasional. Sub holding PTPN III (Persero) ini bersiap memulai pembangunan (groundbreaking) fasilitas pengolahan sawit terpadu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra Utara.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa mengatakan, rencana pembangunan tersebut bagian dari arah strategis perusahaan yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional, termasuk arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

“Program ini bagian dari ekosistem hilirisasi yang lebih luas, tidak hanya di sektor sawit, tetapi juga berbarengan lintas sektor sebagaimana diarahkan Danantara," kata Jatmiko, dalam rilis ke Kontan.co.id, Rabu (25/3). 


Waktu pelaksanaan groundbreaking masih menunggu keputusan pemegang saham dan kegiatan tersebut dilakukan dalam waktu dekat, setelah periode Lebaran.

“Secara kesiapan kami sudah matang. Tinggal menunggu keputusan pemegang saham, dan kami estimasikan bisa dilakukan pasca Lebaran ini,: katanya. Menurut Jatmiko, PalmCo kini menggeser fokus bisnis dari sekadar produksi dan ekspor crude palm oil (CPO) menjadi pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi.

Ia mencontohkan, pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi produk lanjutan seperti bio propylene glycol (BioPG) mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. “Nilai tambah dari hilirisasi ini bisa meningkat hingga belasan kali lipat. Ini yang menjadi dorongan utama kami,” ujarnya. Dalam tahap awal pengembangan, PalmCo akan membangun sejumlah fasilitas utama. Targetnya beroperasi bertahap mulai akhir tahun 2028.

Baca Juga: Laba Unaudited PalmCo Tembus Rp6,19 Triliun, Efisiensi Jadi Pengungkit Kinerja

Fasilitas tersebut mencakup pabrik margarin dan shortening dengan kapasitas sekitar 40.000 ton per tahun, serta pabrik cocoa butter equivalent (CBE) dan cocoa butter substitute (CBS) berkapasitas sekitar 34.000 ton per tahun. Selain itu, PalmCo akan mengembangkan fasilitas pengolahan lanjutan lain untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global produk berbasis sawit.

Adapun pembangunan pabrik biodiesel dengan kapasitas sekitar 450.000 ton per tahun juga akan menjadi bagian dari pengembangan berikutnya, terutama untuk mendukung ketahanan energi nasional. Proyek hilirisasi minyak sawit ini diproyeksi mampu memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja.

Pada fase konstruksi hingga operasional penuh, PalmCo memperkirakan total tenaga kerja yang terserap mencapai sekitar 2.900 orang. “Ini bukan hanya proyek industri, tetapi juga upaya menggerakkan ekonomi daerah dan menciptakan pertumbuhan yang lebih merata,” kata Jatmiko.

Selain penyerapan tenaga kerja langsung, keberadaan kawasan industri ini juga dipercaya dapat memicu efek berganda bagi sektor ekonomi lain. Seperti logistik dan usaha kecil menengah di sekitar kawasan. Di sisi hulu, kehadiran fasilitas hilirisasi ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sawit rakyat. PalmCo memproyeksi, pada tahun 2030, fasilitas tersebut mampu menyerap hingga 2,7 juta ton TBS per tahun, atau setara sekitar 567.000 ton CPO.

“Dengan hilirisasi ini, kami ingin memastikan hasil produksi petani terserap secara berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga stabilitas ekosistem sawit nasional,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News