KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah memproduksi massal mobil nasional paling lambat pada 2028 dinilai dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri komponen otomotif dalam negeri. Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menilai industri pemasok komponen nasional relatif siap menopang program tersebut. Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmad Basuki mengatakan program mobil nasional akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan rantai pasok otomotif domestik.
Menurutnya, kesiapan industri komponen saat ini sudah cukup memadai, terutama karena proses elektrifikasi kendaraan di Indonesia telah berjalan sejak beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Mobil Nasional Ditargetkan Produksi Massal 2028, Butuh Investasi hingga Rp 41 Triliun “Kalau dilihat dari kesiapan industri part atau komponen saat ini mestinya sudah siap,” kata Rachmad kepada Kontan, Rabu (19/8/2026). Ia menjelaskan, industri otomotif nasional telah beradaptasi dengan perkembangan kendaraan listrik melalui program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang mulai berjalan sejak 2021. Kondisi tersebut membuat industri komponen memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan teknologi kendaraan. Dari sisi volume, Rachmad menilai target produksi sekitar 50.000 unit per tahun sudah cukup untuk mendorong peningkatan tingkat kandungan lokal (TKDN) pada kendaraan nasional. Namun, pemerintah perlu menjaga jumlah model yang diproduksi agar tidak terlalu banyak. “Dengan target volume 50.000 rasanya sudah cukup untuk mendorong lokalisasi part atau komponen, asal modelnya jangan terlalu banyak,” ujarnya. Menurut Rachmad, peralihan dari kendaraan bermesin pembakaran internal atau
internal combustion engine (ICE) menuju kendaraan listrik tidak serta-merta mengubah seluruh komponen kendaraan. Perubahan terbesar terutama terjadi pada bagian
powertrain. Pada kendaraan listrik, komponen utama yang menjadi pembeda antara lain baterai, motor listrik dan
power control unit (PCU).
Baca Juga: Pemerintah Izinkan PT Timah Beli Hasil Tambang Rakyat Bangka Belitung Sementara itu, sebagian besar komponen lain pada kendaraan masih dapat menggunakan komponen yang sama atau hanya membutuhkan penyesuaian tertentu. “Yang berubah utamanya
powertrain, yaitu baterai, motor listrik dan PCU. Yang lainnya sama atau sedikit penyesuaian,” jelasnya. Rachmad mengatakan industri baterai di dalam negeri saat ini juga mulai tumbuh. Adapun pengembangan produksi motor listrik dan PCU secara lokal masih bergantung pada volume produksi kendaraan. Menurut dia, peningkatan volume produksi menjadi faktor penting agar produksi kedua komponen tersebut dapat memenuhi skala ekonomi dan layak dikembangkan di dalam negeri.
“Untuk baterai industrinya sudah mulai tumbuh, sedangkan motor listrik dan PCU menurut saya tinggal tunggu volumenya untuk bisa dilokalkan karena menyangkut skala ekonomi,” kata Rachmad. Karena itu, kepastian volume produksi mobil nasional menjadi salah satu faktor penting bagi industri komponen. Dengan volume yang cukup dan jumlah model yang tidak terlalu beragam, pemasok domestik dinilai memiliki ruang lebih besar untuk melakukan investasi dan meningkatkan lokalisasi komponen. Bagi GIAMM, program mobil nasional bukan hanya soal menghadirkan produk kendaraan bermerek nasional, tetapi juga dapat menjadi pengungkit bagi rantai pasok otomotif dari hulu hingga hilir. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News