Gihon (GHON) Incar Penambahan Tenancy dan Optimalisasi Menara di Jabodetabek



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) memetakan peluang dan tantangan yang membayangi industri telekomunikasi pada tahun ini. GHON pun telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga performa keuangan dan bisnis pada tahun 2026.

Direktur Utama Gihon Telekomunikasi Indonesia, Rudolf Parningotan Nainggolan mengungkapkan bahwa peluang untuk mencapai pertumbuhan masih terbuka. Terutama karena kebutuhan infrastruktur telekomunikasi yang masih meningkat seiring ekspansi dan optimalisasi jaringan, khususnya 4G dan 5G, serta kebutuhan kolokasi dan solusi berbagai infrastruktur.

Pada tahun ini, GHON akan fokus pada penambahan tenancy dan optimalisasi kolokasi pada menara yang telah ada. Prioritas GHON berada di wilayah Pulau Jawa, terutama kawasan Jabodetabek, sejalan dengan tingginya kebutuhan kapasitas jaringan dan trafik data di wilayah perkotaan tersebut.


"Strategi ini dilakukan secara selektif dan terukur untuk memastikan efisiensi investasi serta menjaga kualitas dan keberlanjutan kinerja Perseroan," kata Rudolf saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga: Gihon Telekomunikasi (GHON) Bakal Kerjasama dengan Surge dan MyRepublic

Di sisi yang lain, Rudolf menilai bahwa tantangan utama berasal dari disiplin belanja modal operator serta tuntutan efisiensi operasional. Guna menghadapi tantangan tersebut, GHON perlu terus menjaga keseimbangan antara ekspansi yang selektif, pengelolaan risiko dan penguatan kinerja operasional.

Di samping itu, GHON juga mencermati dampak dari konsolidasi atau merger operator. Adapun, aksi merger besar terbaru terjadi pada tahun lalu. XL Axiata konsolidasi dengan Smartfren menjadi XLSmart.

Rudolf menyoroti, aksi merger operator bisa berdampak terhadap penurunan jumlah tenancy akibat perampingan kolokasi. GHON pun mengantisipasi potensi terjadinya koreksi pendapatan dan laba  pada tahun 2026.

Tapi, Rudolf menegaskan bahwa GHON akan berupaya menjaga kinerja serta memitigasi agar penurunan hanya terjadi secara terbatas. "Kami masih prediksi, harapannya bisa bertahan," ungkap Rudolf.

Baca Juga: Gihon Telekomunikasi Lanjutkan Ekspansi Menara Telekomunikasi di Sepanjang 2025

Sebagai upaya menjaga kinerja, fokus strategi bisnis GHON adalah optimalisasi portofolio aset yang ada serta penjajakan peluang kerja sama dengan operator baru, antara lain Surge dan MyRepublic. Hanya saja, Rudolf belum merinci peluang kerja sama antara GHON dengan dua perusahaan telekomunikasi tersebut.

Rudolf melanjutkan, pada tahun ini belanja modal atau capital expenditure (capex) GHON akan disesuaikan dengan rencana kerja dan kebutuhan operasional. Secara umum akan difokuskan untuk mendukung pengembangan dan optimalisasi infrastruktur menara, termasuk kegiatan site acquisition serta pekerjaan Civil, Mechanical and Electrical (CME).

Rudolf memberikan gambaran, anggaran capex GHON tahun ini tidak jauh dari tahun lalu di sekitar Rp 150 miliar. "Realisasi capex dilakukan secara selektif dan prudent sejalan dengan dinamika bisnis dan kondisi pasar, serta tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian," tandas Rudolf.

Baca Juga: Sengketa Kontrak Menara Telekomunikasi Berpotensi Pengaruhi Layanan di Badung

Selanjutnya: Jasindo Melihat Peluang dari Target Investasi Pengembangan EBT di Indonesia

Menarik Dibaca: 5 Pilihan Sofa yang Sebaiknya Dihindari untuk Ruang Tamu Rumah Modern

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News