Giliran Argentina di ambang krisis keuangan sepuluh tahunan



KONTAN.CO.ID - BUENOS AIRES. Peso Argentina jatuh 7,6% terhadap dollar AS meskipun bank sentral menjual cadangan untuk hari kedua pada hari Rabu (29/8). Permintaan Presiden untuk meminta Dana Moneter Internasional mencairkan dana siaga lebih awal mengguncang kepercayaan investor .

Penurunan peso tersebut merupakan penurunan harian terbesar sejak mata uang itu dibiarkan mengambang pada Desember 2015. Perdagangan peso Argentina ditutup pada rekor terendah 34,10 per dolar AS alias anjlok lebih dari 45,3% terhadap greenback tahun ini.

Bank sentral melakukan intervensi pasar secara besar-besaran. Negara Amerika Latin ini tengah berjuang membebaskan diri dari siklus krisis keuangan satu dekade yang terkenal. Krisis terakhir, yang disela oleh default utang 2002, melemparkan jutaan kelas menengah Argentina ke dalam kemiskinan.


Penurunan peso mendorong Argentina meminta bantuan ke IMF dengan batas kredit US$ 50 miliar awal tahun ini. Tapi mengingat depresiasi peso terus berlanjut, yang membuat utang negara dalam denominasi dolar lebih mahal untuk dibayar, investor semakin khawatir bahwa mungkin dana itu tidak cukup.

"Kami setuju dengan Dana Moneter Internasional untuk mengajukan semua dana yang diperlukan menjamin kepatuhan program keuangan tahun depan," kata Presiden Mauricio Macri di sebuah pidato televisi pada hari Rabu. "Keputusan ini bertujuan untuk menghilangkan ketidakpastian apapun."

"Selama minggu lalu kami telah melihat ekspresi baru kurangnya kepercayaan di pasar, khususnya atas kapasitas pembiayaan kami pada 2019," kata Macri.

Dalam sebuah pernyataan, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengatakan telah menginstruksikan staf untuk "memeriksa kembali tahapan program keuangan" Argentina. Dia mengatakan "kondisi pasar internasional yang lebih buruk" belum "sepenuhnya diantisipasi" ketika IMF dan Argentina mencapai kesepakatan.

Argentina memiliki US$ 24,9 miliar pembayaran utang dalam mata uang peso dan mata uang asing yang akan jatuh tempo tahun depan, menurut data resmi.

Berbicara kepada wartawan setelah IMF mengeluarkan pernyataannya, Menteri Keuangan Nicolas Dujovne mengatakan pemerintah akan mengurangi ukuran program pembiayaannya, tetapi tidak memberikan spesifikasinya.

Editor: Hasbi Maulana