KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana giro terlihat masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan pada Juli 2026. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan DPK perbankan mencapai Rp9.666,9 triliun, tumbuh 7,7% secara tahunan. Salah satu penopang pertumbuhan DPK berasal dari dana giro yang tumbuh lebih cepat dibandingkan total DPK. Pada Juli 2026, giro tumbuh 10,5% yoy menjadi Rp 3.055,6 triliun, meningkat dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 10,2%.
Baca Juga: Premi Asuransi Jiwa Segmen Perorangan dan Kumpulan Kompak Tumbuh pada Semester I-2026 Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, pertumbuhan giro tersebut menunjukkan dana likuid korporasi masih kuat dan aktivitas transaksi mulai meningkat. “Pertumbuhan giro sebesar 10,5% pada Juli 2026 menunjukkan dana likuid korporasi masih kuat dan aktivitas transaksi mulai meningkat. Namun, belum sepenuhnya dapat disebut ekspansi karena sebagian pelaku usaha masih menahan dana sambil menunggu kepastian investasi,” ujar Trioksa kepada Kontan, Rabu (2/9/2026). Menurut dia, peningkatan giro memberikan keuntungan bagi bank karena dapat membantu menekan biaya dana (
cost of fund). Namun, karakteristik giro yang dapat ditarik sewaktu-waktu membuat dana tersebut relatif lebih volatil dibandingkan sumber pendanaan lainnya. Ketika aktivitas ekspansi usaha mulai meningkat, sebagian dana giro berpotensi digunakan untuk kebutuhan modal kerja maupun investasi. Kondisi ini dapat menimbulkan tekanan terhadap likuiditas perbankan apabila pertumbuhan kredit lebih cepat dibandingkan pertumbuhan DPK. “Ketika ekspansi usaha meningkat, sebagian giro berpotensi digunakan untuk modal kerja dan investasi sehingga bank perlu mengantisipasi tekanan likuiditas, terutama jika pertumbuhan kredit lebih cepat daripada DPK,” jelasnya. Trioksa menilai, pertumbuhan giro baru dapat menjadi sinyal pemulihan ekonomi yang lebih kuat apabila diikuti dengan peningkatan penyaluran kredit modal kerja dan investasi, serta aktivitas usaha. Karena itu, hingga akhir 2026, bank perlu mencermati sejumlah indikator, mulai dari pertumbuhan DPK dan kredit, Loan to Deposit Ratio (LDR), aset likuid terhadap DPK (AL/DPK), utilisasi
undisbursed loan hingga aktivitas transaksi.
Baca Juga: Imbal Jasa Penjaminan Terus Tumbuh, OJK Beberkan Faktor Penyebabnya “Bank perlu menjaga buffer likuiditas, memperluas sumber pendanaan dan mempertahankan CASA yang stabil,” imbuh Trioksa. Pertumbuhan giro juga tercermin pada kinerja sejumlah bank besar. PT Bank Central Asia Tbk (
BBCA), misalnya, mencatatkan DPK giro sebesar Rp445,96 triliun per Juli 2026, tumbuh 16,76% yoy. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pertumbuhan tersebut turut menopang total DPK BCA yang mencapai Rp1.257,72 triliun, naik 8,23% yoy dari Rp1.162,05 triliun pada Juli 2025. “Pertumbuhan giro yang konsisten di BCA tidak lepas dari kepercayaan nasabah serta upaya BCA dalam menghadirkan layanan transaksi yang andal,” kata Hera. Dia mengatakan, di tengah dinamika perekonomian saat ini, DPK dan CASA BCA masih menunjukkan tren positif. Kondisi tersebut sejalan dengan peningkatan aktivitas transaksi perbankan dan perluasan basis nasabah. Dari sisi likuiditas, BCA menyebut kondisi likuiditas hingga saat ini masih sehat dan terjaga. Dalam laporan keuangan triwulanannya, LDR BCA per Juni 2026 berada di level 78,7%, yang menunjukkan ruang likuiditas masih memadai di tengah penyaluran kredit. Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk (
BNGA) juga mencatat pertumbuhan giro yang cukup kuat. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, DPK giro CIMB Niaga tumbuh 10,25% menjadi Rp100,6 triliun per Juli 2026.
Baca Juga: Imbal Jasa Penjaminan Terus Tumbuh, OJK Beberkan Faktor Penyebabnya Menurut Lani, pertumbuhan tersebut terutama berasal dari operating account, cash management dan
financial institution non-retail. Dia memperkirakan pertumbuhan giro masih akan lebih besar pada tahun ini dibandingkan tabungan ritel yang cenderung tumbuh moderat. “Strategi CASA yang baik lewat
cash management, operating account dan
payroll akan terus kami lanjutkan,” ujar Lani. Strategi serupa juga dilakukan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) untuk memperkuat dana murah. Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan mengatakan, DPK giro BTN hingga 31 Agustus 2026 tumbuh 4,87% yoy dibandingkan posisi 31 Agustus 2025. “Kami melihat perkembangan ini secara positif, karena menunjukkan kepercayaan sekaligus aktivitas transaksi nasabah yang tetap terjaga,” kata Rully. Menurut Rully, meski giro merupakan dana yang relatif likuid dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan transaksi, peningkatan aktivitas transaksi justru dapat membuat dana tersebut lebih sticky. Semakin aktif nasabah menggunakan rekening giro untuk transaksi, semakin besar kebutuhan mereka untuk mempertahankan dana operasional di rekening tersebut.
Baca Juga: OJK Beri Sanksi 11 Perusahaan Asuransi yang Belum Sampaikan Laporan Keuangan PSAK 117 “Karena itu, peningkatan aktivitas transaksi justru dapat mendorong
stickiness dana giro,” jelasnya. BTN mencatat pertumbuhan giro masih banyak ditopang sektor yang berkaitan dengan ekosistem properti dan perumahan yang merupakan bisnis inti perseroan. Namun, basis pertumbuhan mulai terdiversifikasi ke sektor pendidikan, kesehatan, perdagangan, manufaktur dan berbagai sektor usaha lainnya. BTN menargetkan pertumbuhan giro dapat mencapai 15%-20% yoy hingga akhir 2026. Target tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan penyaluran kredit korporasi BTN yang meningkat sekitar 15% yoy.
Untuk mengejar target tersebut, BTN mengandalkan strategi
transaction-based funding, yakni mendorong pertumbuhan giro yang berasal dari kebutuhan transaksi riil nasabah. Perusahaan ini memperkuat
wholesale transaction banking melalui layanan pembayaran,
collection,
cash management,
payroll serta berbagai solusi transaksi lainnya. BTN juga mengandalkan Bale Korpora sebagai salah satu kanal utama transaksi nasabah. “Jadi, kami tidak hanya menawarkan produk giro, tetapi membangun
transactional ecosystem yang membuat BTN menjadi
primary banking partner nasabah,” pungkas Rully. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News