KONTAN.CO.ID - Industri pertambangan global tengah bersiap menghadapi pergeseran peta kekuatan besar. Raksasa tambang Rio Tinto dilaporkan sedang dalam tahap pembicaraan serius untuk membeli Glencore. Langkah korporasi ini berpotensi menciptakan perusahaan pertambangan terbesar di dunia dengan nilai pasar gabungan yang fantastis. Melansir laporan dari BusinessTech, kombinasi antara Rio Tinto dan Glencore diprediksi akan menghasilkan entitas tambang dengan nilai pasar melampaui US$ 200 miliar atau sekitar sekitar Rp 3.374,8 triliun (kurs Rp16.874 per dolar AS). Angka ini mencerminkan skala bisnis yang sangat masif di sektor komoditas global.
Detail Negosiasi dan Aturan Takeover
Kedua perusahaan telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang mendiskusikan potensi penggabungan sebagian atau seluruh lini bisnis mereka. Skema yang tengah dijajaki mencakup pengambilalihan seluruh saham (all-share takeover). Namun, hingga saat ini, belum ada kepastian mengenai persyaratan atau struktur final dari transaksi tersebut. Berdasarkan aturan pengambilalihan di Inggris (UK takeover rules), Rio Tinto memiliki batas waktu hingga 5 Februari mendatang untuk memberikan kepastian. Perusahaan harus memutuskan apakah akan mengajukan penawaran resmi atau mundur dari negosiasi selama enam bulan ke depan. Sebagai informasi, ini bukan pertama kalinya kedua raksasa ini duduk di meja perundingan. Dilansir dari BusinessTech, Rio Tinto dan Glencore sebelumnya pernah mengadakan diskusi serupa pada tahun 2024. Namun, pembicaraan tersebut menemui jalan buntu karena adanya ketidaksepakatan mengenai valuasi perusahaan.Sosok Gary Nagle dalam Pusaran Merger
Di pihak Glencore, proses negosiasi ini dipimpin langsung oleh CEO Gary Nagle. Pria berkebangsaan Afrika Selatan ini telah bergabung dengan Glencore selama lebih dari dua dekade dan mengambil alih kepemimpinan pada tahun 2021 menggantikan Ivan Glasenberg. Berikut adalah rekam jejak Gary Nagle di industri pertambangan:- Pendidikan: Merupakan lulusan University of the Witwatersrand dan terkualifikasi sebagai akuntan publik pada tahun 1999.
- Awal Karier: Bergabung dengan Glencore pada tahun 2000 sebagai manajer aset di departemen batu bara.
- Pengalaman Global: Memiliki pengalaman operasional di Australia, Kolombia, Afrika Selatan, hingga Swiss.
- Kepemimpinan: Pernah menjabat sebagai CEO operasional batu bara Prodeco di Kolombia dan mengepalai aset aloi di Afrika Selatan setelah akuisisi Xstrata pada 2013.