GLOBAL MARKETS: Sikap Trump Picu Pelarian dari Dolar AS



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tertekan mendekati level terendah dalam beberapa tahun terakhir pada Rabu (28/1), setelah investor agresif melepas mata uang tersebut menyusul sikap Presiden AS Donald Trump yang terkesan mengabaikan pelemahan dolar.

Di sisi lain, Wall Street justru melaju ke rekor tertinggi baru.

Pelemahan dolar mendorong euro menembus level US$1,20 untuk pertama kalinya sejak 2021.


Dolar Australia melampaui 70 sen AS dan menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Harga emas dan komoditas lain yang dihitung dalam dolar melonjak tajam.

Baca Juga: Jam Kiamat Semakin Maju: Ini Alasan Dunia Kini Makin Dekat Kiamat

Yen Jepang juga menguat menjauh dari level terendahnya baru-baru ini, meski pergerakan mulai stabil pada awal perdagangan Asia.

“Dolar sedang baik-baik saja,” kata Trump singkat ketika ditanya wartawan apakah ia menilai pelemahan dolar sudah berlebihan.

Komentar tersebut muncul setelah dolar mencatat penurunan tiga hari terbesar sejak gejolak kebijakan tarif April tahun lalu.

Pasar juga dibuat gelisah oleh diplomasi Trump yang tak terduga terkait Greenland serta sinyal bahwa AS bersedia membantu Jepang memperkuat yen.

“Pelaku pasar valuta asing selalu mencari tren untuk diikuti,” kata Steve Englander, Kepala Riset Valuta Asing G10 Standard Chartered di New York.

“Biasanya pejabat akan menahan pergerakan mata uang yang terlalu cepat. Namun ketika presiden justru menunjukkan sikap acuh atau bahkan seolah mendukungnya, itu memberi keberanian bagi penjual dolar untuk terus menekan.”

Baca Juga: Trump: AS Akan Cari Jalan Tengah dengan Korea Selatan Usai Ancaman Tarif 25%

Pekan lalu, Bank Sentral AS wilayah New York diketahui mengecek level nilai tukar dolar terhadap yen, yang ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa otoritas AS tidak keberatan—bahkan mungkin membantu—jika Jepang mendorong penguatan yen.

Sepanjang 2025, dolar telah merosot lebih dari 9%, menjadi penurunan tahunan terdalam sejak 2017.

Tekanan dipicu oleh ketidakpastian akibat serangan Trump terhadap independensi Federal Reserve, kebijakan belanja, serta arah kebijakan luar negeri AS.

Dolar yang melemah membantu harga emas mencetak rekor baru di US$5.188,95 per ons troi, sementara harga minyak mentah AS menembus rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam enam bulan ke level US$62,54 per barel.

Sebaliknya, bitcoin belum ikut menikmati reli dan masih tertahan di bawah US$90.000. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sedikit naik ke 4,237% pada perdagangan Tokyo.

Baca Juga: Diplomasi Xi Menggoda Eropa, Akankah AS Kehilangan Sekutu Penting?

Di Wall Street, saham perusahaan asuransi kesehatan tertekan setelah pemerintahan Trump mengusulkan kenaikan pembayaran pemerintah yang lebih kecil dari perkiraan pasar.

Meski demikian, indeks S&P 500 tetap menguat 0,4% dan ditutup di rekor tertinggi baru, dengan kontrak berjangka naik tipis 0,1% di Asia.

Di kawasan Asia-Pasifik, bursa Australia mencatat kenaikan tipis, indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 1,7% ke rekor tertinggi. Sementara indeks Nikkei Jepang yang cenderung bergerak berlawanan arah dengan yen turun 0,7%.

Selanjutnya: Rahasia Instagram! Matikan Balasan Story Cuma Butuh 3 Menit

Menarik Dibaca: Rahasia Instagram! Matikan Balasan Story Cuma Butuh 3 Menit