GMFI Bidik Pendapatan US$ 50 Juta dari Bisnis Aviasi Pertahanan pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten anak usaha Garuda Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) atau GMF Aero Asia mengoptimalkan segmen bisnis aviasi pertahanan (defense aviation) pada tahun ini.

Direktur Utama GMFI Andi Fahrurrozi mengatakan, perusahaan menargetkan segmen defense aviation berkontribusi minimal 10% terhadap total pendapatan 2026.

Pasalnya, lanjut Andi, kondisi geopolitik yang tegang sejak awal tahun ini membuat kebutuhan pesawat di industri defense (pertahanan) meningkat dibandingkan komersial.


"Untuk segmen defense tahun ini target kami 10% dari total revenue, minimal 10%, jadi di atas US$ 50 juta. Ke depannya di tahun 2030, kami targetkan dari segmen defense itu 

menyumbang 20% total revenue," katanya dalam laporan paparan publik, Senin (15/6/2026) lalu.

Lewat defense aviation project, perusahaan mengincar pasar perawatan serta modernisasi armada udara militer.

Salah satu strategi yang disiapkan perseroan untuk mengoptimalkan segmen pertahanan adalah mengembangkan kawasan aerospace park yang akan dikelola melalui kerja sama operasi (KSO) antara GMF dan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (Perseroda).

Kawasan tersebut ditargetkan menjadi ekosistem maintenance, repair, and overhaul (MRO) pertahanan terbesar di Indonesia, dengan GMF sebagai anchor tenant.

Dari lini bisnis utamanya yakni maintenance, repair, and overhaul (MRO), GMFI berencana memperluas fasilitas hanggar MRO di kawasan Timur Tengah. Ekspansi tersebut ditargetkan menghasilkan pendapatan sekitar US$ 16 juta tahun ini.

Selain itu, GMFI juga menjalankan proyek ekspansi hanggar di Bandara Soekarno-Hatta (CGK) untuk meningkatkan kapasitas layanan MRO bagi pesawat berbadan lebar (widebody) maupun berbadan sempit (narrowbody).

"Seiring peningkatan kapasitas hanggar dan penyerapan pasar yang lebih besar, proyek ini diperkirakan menyumbang US$ 8 juta dalam tiga tahun ke depan," jelas Andi.

Adapun tahun ini, GMFI juga memperluas kapasitas layanan airframe maintenance melalui pemanfaatan hanggar Pelita Air di Pondok Cabe. 

Langkah ini guna meningkatkan kemampuan perawatan pesawat narrowbody dan turboprop, serta memenuhi pertumbuhan permintaan MRO dalam negeri.

Andi menambahkan, GMFI juga mencermati dampak kenaikan harga avtur saat ini.

Dia bilang, melonjaknya harga avtur berpotensi menekan pendapatan pada segmen line maintenance.

"Ketika frekuensi turun, otomatis memang akan berdampak pada pendapatan, itu akan dipengaruhi langsung dari efek avtur," ujar Andi. Namun, dampak kenaikan avtur di segmen lain dinilai terbatas, khususnya di bisnis heavy maintenance seperti airframe, component, dan engine.

"Karena heavy maintenance perawatannya sudah berjadwal dan jatuh temponya sudah diperkirakan oleh para pelanggan 1 atau 2 tahun sebelumnya. Sehingga kontrak-kontrak yang kami dapatkan untuk airframe dan component engine maintenance tetap berjalan," kata Andi.

Berdasarkan laporan keuangannya, pada kuartal I-2026, pendapatan GMFI meningkat 20,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$ 114,94 juta, dari US$ 95,36 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 77,9% yoy menjadi US$6,75 juta, dibandingkan US$ 3,80 juta pada kuartal I-2025.

Baca Juga: Pemerintah Tahan Tarif Listrik, Beban Subsidi dan Kompensasi PLN Disorot

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News