JAKARTA. Harga saham yang dianggap tidak merefleksikan harga saham sebenarnya, membuat PT Dynaplast Tbk (DYNA) memutuskan untuk go private. "Sahamnya tidak likuid," kata Presiden Direktur DYNA Tony Hambali, Senin (25/4). Rencana tersebut bakal disampaikan manajemen perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu (27/4)."Kalau dari RUPSLB disetujui, kami berharap tender offer bisa dilakukan akhir Juli," ungkap Tony. Berdasarkan Keterbukaan Informasi DYNA ke Bursa Efek Indonesia akhir pekan lalu, manajemen menyebutkan tiga alasan utama rencana go private DYNA. Pertama, karena saham perseroan tidak aktif diperdagangkan dan tidak likuid. Kedua, pemegang saham publik yang tidak dapat menjual saham mereka jumlahnya cukup signifikan. Ketiga, perseroan telah menerima permintaan baik secara lisan maupun tertulis dari beberapa pemegang saham publik yang ingin menjual saham mereka.
Go private, DYNA bakal segera tender offer
JAKARTA. Harga saham yang dianggap tidak merefleksikan harga saham sebenarnya, membuat PT Dynaplast Tbk (DYNA) memutuskan untuk go private. "Sahamnya tidak likuid," kata Presiden Direktur DYNA Tony Hambali, Senin (25/4). Rencana tersebut bakal disampaikan manajemen perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada Rabu (27/4)."Kalau dari RUPSLB disetujui, kami berharap tender offer bisa dilakukan akhir Juli," ungkap Tony. Berdasarkan Keterbukaan Informasi DYNA ke Bursa Efek Indonesia akhir pekan lalu, manajemen menyebutkan tiga alasan utama rencana go private DYNA. Pertama, karena saham perseroan tidak aktif diperdagangkan dan tidak likuid. Kedua, pemegang saham publik yang tidak dapat menjual saham mereka jumlahnya cukup signifikan. Ketiga, perseroan telah menerima permintaan baik secara lisan maupun tertulis dari beberapa pemegang saham publik yang ingin menjual saham mereka.