Goldman Proyeksikan Minyak Brent di US$56 dan WTI US$52 Secara Rata-Rata di 2026



KONTAN.CO.ID - Harga minyak global diperkirakan cenderung melemah sepanjang 2026 seiring lonjakan pasokan yang berpotensi menciptakan surplus di pasar.

Meski demikian, risiko geopolitik yang melibatkan Rusia, Venezuela, dan Iran diperkirakan masih akan memicu volatilitas harga, demikian proyeksi Goldman Sachs.

Dalam catatan riset yang dirilis Minggu (11/1/2026), Goldman mempertahankan proyeksi harga rata-rata minyak Brent di US$ 56 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di US$ 52 per barel pada 2026.


Baca Juga: Di Tengah Sorotan Kinerja, Singapura Bela Mandat GIC dan Temasek

Bank investasi tersebut juga memperkirakan harga Brent dan WTI masing-masing akan menyentuh titik terendah di kisaran US$ 54 dan US$ 50 per barel pada kuartal IV-2026, seiring peningkatan persediaan minyak di negara-negara OECD.

“Peningkatan stok minyak global dan proyeksi surplus sekitar 2,3 juta barel per hari pada 2026 menunjukkan bahwa proses penyeimbangan pasar kemungkinan membutuhkan harga minyak yang lebih rendah,” tulis Goldman Sachs dilansir dari Reuters, Senin (12/1/2026).

Penurunan harga dinilai perlu untuk menahan pertumbuhan pasokan non-OPEC sekaligus menopang pertumbuhan permintaan, kecuali terjadi gangguan pasokan besar atau pemangkasan produksi oleh OPEC.

Pada perdagangan Senin pagi, kontrak berjangka minyak Brent bergerak di sekitar US$ 63 per barel, sementara WTI bertahan di kisaran US$ 59 per barel.

Sepanjang tahun lalu, kedua acuan tersebut mencatat kinerja tahunan terburuk sejak 2020, dengan penurunan hampir 20%.

Baca Juga: Dolar AS dan Futures Saham AS Merosot, Ancaman Kriminal ke Ketua The Fed Bikin Geger

Goldman juga menyoroti fokus pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS) yang mendorong pasokan energi kuat dan harga minyak relatif rendah.

Kondisi ini diperkirakan akan membatasi potensi kenaikan harga minyak secara berkelanjutan, terutama menjelang pemilu paruh waktu di AS.

Meski demikian, harga minyak diproyeksikan mulai pulih secara bertahap pada 2027, seiring pasar kembali ke kondisi defisit akibat melambatnya pertumbuhan pasokan non-OPEC dan tetap solidnya permintaan global.

Goldman memperkirakan harga rata-rata Brent dan WTI masing-masing di US$ 58 dan US$ 54 pada 2027, meski angka tersebut sekitar US$ 5 lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

Penyesuaian ini dilakukan setelah Goldman menaikkan proyeksi pasokan minyak 2027 dari Amerika Serikat, Venezuela, dan Rusia masing-masing sebesar 0,3 juta barel per hari, 0,4 juta barel per hari, dan 0,5 juta barel per hari.

Baca Juga: Konflik Trump–Powell Memanas, Dolar AS Melemah dan Saham Global Berfluktuasi

Dalam jangka lebih panjang, Goldman memperkirakan potensi pemulihan harga yang lebih signifikan pada akhir dekade ini, didorong pertumbuhan permintaan hingga 2040 setelah bertahun-tahun minim investasi jangka panjang.

Untuk periode 2030–2035, Goldman memproyeksikan harga rata-rata Brent di US$ 75 per barel dan WTI di US$ 71 per barel, meski kembali direvisi turun US$ 5 dari estimasi sebelumnya.

Namun, risiko terhadap proyeksi harga tersebut dinilai masih condong ke arah penurunan, terutama jika pasokan non-OPEC kembali meningkat.

Goldman juga menyatakan tidak mengantisipasi adanya pemangkasan produksi oleh OPEC, meskipun risiko geopolitik tetap tinggi dan posisi spekulatif pasar relatif rendah.

“Kami tetap merekomendasikan investor untuk mengambil posisi short pada time spread Brent periode kuartal III-2026 hingga Desember 2028 guna mencerminkan pandangan surplus pada 2026, serta menyarankan produsen minyak untuk melakukan lindung nilai terhadap risiko penurunan harga pada 2026,” tulis Goldman.

Selanjutnya: Di Tengah Sorotan Kinerja, Singapura Bela Mandat GIC dan Temasek

Menarik Dibaca: Promo Paket Gokana Hebat Mulai Rp 99 Ribu, Makan Bertiga Jadi Lebih Hemat