Goldman Sachs & ANZ Pangkas Prediksi Harga Minyak 2026 Usai Gencatan Senjata AS-Iran



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Goldman Sachs memangkas perkiraan harga minyak Brent dan minyak mentah AS (WTI) untuk kuartal kedua 2026 masing-masing menjadi US$ 90 dan US$ 87 per barel. Pemangkasan ini setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. 

Sebelumnya, Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dan WTI akan bergerak rata-rata US$ 99 dan US$ 91 per barel.

Harga minyak Brent telah turun lebih dari 11% sepanjang minggu ini, seiring harapan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui gencatan senjata sementara dengan Iran. Namun, harga kembali naik pada Kamis karena kekhawatiran pasokan dari kawasan penghasil minyak utama di Timur Tengah mungkin tidak sepenuhnya pulih, seiring keraguan atas keberlangsungan gencatan senjata dan pembatasan akses Selat Hormuz yang masih berlangsung.


Baca Juga: Trump: Militer AS di Sekitar Iran, Akan Beraksi Jika Iran Gagal Penuhi Kesepakatan

Sementara itu, ANZ mencatat bahwa gangguan pasokan minyak telah secara signifikan memperketat keseimbangan minyak global, menggeser pasar dari surplus di awal tahun menjadi defisit yang besar. “Kami melihat risiko nyata bahwa 1 juta–2 juta barel per hari kapasitas produksi dapat hilang atau terbatas secara permanen, terutama dari lapangan matang, sistem ekspor yang terbatas, serta produsen yang menghadapi sanksi atau masalah pendanaan,” tulis ANZ.

ANZ menambahkan bahwa pasar kemungkinan memerlukan harga di atas US$ 100 per barel secara berkelanjutan untuk menahan permintaan dan mendorong pengurangan stok, jika pemulihan pasokan terhenti pada level minggu ini, meninggalkan defisit lebih dari 4 juta–5 juta barel per hari.

Berbagai perkiraan harga minyak dari bank dan lembaga keuangan lain untuk 2026 juga menunjukkan ketidakpastian yang tinggi akibat konflik dan gangguan pasokan. Misalnya, Morgan Stanley memprediksi harga Brent tetap di atas US$ 80 per barel sepanjang 2026 jika konflik berlanjut hingga akhir Juni, sementara UBS memperingatkan potensi kenaikan harga minyak hingga US$ 150 per barel atau lebih jika Selat Hormuz tetap tertutup selama beberapa minggu.