KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Laba kuartal keempat Goldman Sachs melampaui ekspektasi Wall Street pada hari Kamis (15/1/2026). Kenaikan ini didorong oleh lonjakan aktivitas transaksi (dealmaking) dan pendapatan perdagangan yang lebih kuat di tengah pasar yang bergejolak. Para trader saham bank tersebut memanfaatkan volatilitas serta reli yang lebih luas di pasar AS, ketika investor berspekulasi mengenai arah suku bunga Federal Reserve dan prospek perusahaan kecerdasan buatan (AI). Pendapatan ekuitas Goldman naik ke rekor tertinggi sebesar US$ 4,31 miliar, meningkat dari US$ 3,45 miliar setahun sebelumnya, sementara pendapatan perdagangan pendapatan tetap, mata uang, dan komoditas naik 12,5% menjadi US$ 3,11 miliar.
Baca Juga: Goldman Sachs Geser Proyeksi Pemangkasan Suku Bunga, Pasar Diminta Bersabar Bank ini mencapai kesepakatan dengan JPMorgan Chase untuk mengambil alih kemitraan kartu Apple. Goldman memperkirakan adanya peningkatan laba sebesar 46 sen per saham sebagai dampak dari keluar dari bisnis tersebut. Laba per saham tercatat sebesar US$ 14,01, melampaui ekspektasi analis sebesar US$ 11,67, menurut data yang dihimpun oleh LSEG. Bank investasi ini juga menaikkan dividen kuartalannya menjadi US$ 4,50 per saham pada kuartal pertama, menegaskan ekspektasinya terhadap tahun yang kuat. “Kenaikan dividen ini merupakan bukti kuat atas keyakinan manajemen terhadap pertumbuhan laba yang berkelanjutan dari bisnis inti perusahaan,” kata Stephen Biggar, analis perbankan di Argus Research. Lingkungan regulasi yang lebih ramah di bawah Presiden Trump, suku bunga yang lebih rendah, serta kelebihan kas telah mendorong perusahaan untuk melakukan lebih banyak transaksi. Pendapatan biaya Goldman dari perbankan investasi naik 25% menjadi US$ 2,58 miliar dibandingkan tahun lalu, meski sedikit di bawah ekspektasi analis sebesar US$ 2,66 miliar. Saham raksasa Wall Street ini, yang telah naik lebih dari 50% sepanjang 2025, turun hampir 2% dalam perdagangan pra-pasar.
Baca Juga: Ancaman 'Jobless Recovery': Goldman Sachs Ungkap 3 Risiko Utama 2026 Pada 2025, Goldman menjadi penasihat sejumlah merger besar, termasuk pembelian dengan leverage senilai US$ 56,5 miliar terhadap Electronic Arts serta akuisisi Alphabet senilai US$ 32 miliar atas perusahaan keamanan cloud Wiz. Transaksi berskala besar ini membantu Goldman kembali menduduki peringkat teratas sebagai penasihat M&A global pada 2025, dengan total nilai transaksi yang ditangani mencapai US$ 1,48 triliun dan menghasilkan biaya sebesar US$ 4,6 miliar. Para dealmaker terkemuka memperkirakan reli merger yang mendekati level rekor pada 2025 akan berlanjut tahun ini seiring besarnya investasi AI yang mendorong lebih banyak transaksi teknologi. Volume M&A global melonjak menjadi US$ 5,1 triliun pada 2025, naik 42% dibandingkan 2024, menurut data Dealogic. Goldman juga menaikkan target margin pra-pajak untuk bisnis manajemen aset dan kekayaan menjadi 30% dalam jangka menengah, dari target sebelumnya di kisaran pertengahan 20%. Unit ini mencatat margin pra-pajak sebesar 25% pada 2025. Bank ini juga membukukan pendapatan biaya manajemen tertinggi sepanjang sejarah dalam satu kuartal, yakni US$ 3,09 miliar. Goldman fokus pada bisnis ini untuk memperoleh pendapatan yang lebih stabil dibandingkan perdagangan dan perbankan investasi yang volatil. Bulan lalu, Goldman memutuskan untuk mengakuisisi Innovator Capital Management, penyedia ETF aktif, dalam transaksi senilai US$ 2 miliar. Aset yang dikelola dan diawasi bank meningkat menjadi US$ 3,61 triliun, dari US$ 3,14 triliun setahun sebelumnya. Pasar IPO pulih dalam beberapa bulan terakhir meskipun sempat terganggu oleh penutupan pemerintahan pada musim gugur yang menunda sejumlah pencatatan saham.
Baca Juga: Goldman Sachs: Tekanan Politik ke Powell Tak Ubah Arah Suku Bunga The Fed Penasihat seperti Goldman akan bersaing memperebutkan gelombang pencatatan saham di AS yang diperkirakan terjadi pada 2026, dengan perusahaan seperti SpaceX, OpenAI, dan Anthropic bersiap untuk potensi IPO. Saham Goldman telah naik lebih dari 50% sepanjang 2025. Goldman menjadi penjamin emisi utama dalam IPO perusahaan alat kesehatan raksasa Medline pada kuartal tersebut, yang merupakan pencatatan saham terbesar secara global pada 2025.
Pelepasan kartu Apple menjadi langkah besar terbaru Goldman untuk menjauh dari bisnis konsumen yang kurang berhasil. Langkah ini terjadi di tengah kekhawatiran lembaga keuangan lain terhadap usulan Presiden AS Donald Trump untuk membatasi suku bunga kartu kredit hingga 10%. Laba Goldman juga terdongkrak oleh pelepasan cadangan sebesar US$ 2,48 miliar yang sebelumnya disisihkan untuk menutup potensi kerugian pinjaman dari kartu tersebut. Morningstar memperkirakan bank akan memperoleh keuntungan sekitar US$ 145 juta dari transaksi ini.